Kencan Dengan Tuhan

Edisi Hari Minggu, 28 Juni 2026 - Selalu Percaya padaNya

5 min · 28. juni 2026
episode Edisi Hari Minggu, 28 Juni 2026 - Selalu Percaya padaNya cover

Beskrivelse

Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 28 Juni 2026 Bacaan: "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup. melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalarn Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20) Renungan: Charles Blondin adalah pemain akrobat terkenal asal Prancis yang hidup di abad 19. Atraksi utamanya adalah berjalan di atas tali. Ketika mengadakan tur di Amerika, Blondin membentangkan tali di atas air terjun Niagara di perbatasan Amerika dan Kanada. Blondin lalu berjalan di atas tali itu bolak balik dari Amerika ke Kanada dan sebaliknya. Di atraksi selanjutnya, ia berjalan mundur, berjalan dengan membawa gerobak dorong. la juga tiba-tiba salto. Di kesempatan lain, ia berjalan saat malam hanya dengan memakai lilin. la menaiki sepeda, juga egrang, berjalan dengan mata ditutup, membawa meja kursi lalu duduk di tengah tali sambil melipat kaki, bahkan membawa kompor dan memasak di seutas tali yang di bawahnya terbentang air terjun deras. Puncaknya, Blondin mengajak siapa yang mau ia gendong untuk berjalan di atas tali. Akhirnya, Harry Colcord, manajernya yang menjadi sukarelawan. Inilah yang Blondin katakan kepada Colcord: "Ingat, saat kugendong, kau bukan Colcord. Kau menjadi Blondin. Tubuh, pikiran, dan jiwamu harus menyatu denganku. Jangan coba menyeimbangkan dirimu karena itu akan membuat kita berdua mati." Blondin dan Colcord pun menjadi orang pertama yang bergendongan melintasi air terjun Niagara di atas tali. Apa yang diucapkan Blondin adalah deskripsi dari percaya. Menjalani hidup di dunia ini juga adalah perkara hidup mati. Bagaimana kita hidup di dunia menentukan apa yang akan kita alami di kekekalan nanti. Akankah kita mendapat hidup kekal atau kita akan mengalami maut dan siksaan kekal. Saat kita mau percaya bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat kita, kita ibarat digendong-Nya untuk menjalani hidup ini untuk selamat tiba sampai akhirnya. Percaya artinya kita harus menyatu dengan-Nya. Kita bukan lagi diri kita. Hidup kita bukan lagi milik kita (Gal. 2:20). Kehendak kita bukan lagi penentu keputusan kita, tapi semua harus sesuai dengan kehendak Bapa. Kita bisa menyebut diri kita sebagai orang percaya. Sudahkah kita benar-benar percaya pada Tuhan, yang berarti kita benar-benar mau menyerahkan setiap keputusan, setiap langkah, dan rencana kita kepada-Nya? Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, mampukan aku untuk melakukan setiap kehendak-Mu agar hidupku dapat tenang, karena aku tahu kepada siapa aku percaya. Amin. (Dod).

Kommentarer

0

Vær den første til at kommentere

Tilmeld dig nu og bliv en del af Kencan Dengan Tuhan-fællesskabet!

Kom i gang

1 måned kun 9 kr.

Derefter 99 kr. / måned · Opsig når som helst.

  • Podcasts kun på Podimo
  • 20 lydbogstimer pr. måned
  • Gratis podcasts

Alle episoder

299 episoder

episode Edisi Hari Minggu, 28 Juni 2026 - Selalu Percaya padaNya cover

Edisi Hari Minggu, 28 Juni 2026 - Selalu Percaya padaNya

Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 28 Juni 2026 Bacaan: "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup. melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalarn Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20) Renungan: Charles Blondin adalah pemain akrobat terkenal asal Prancis yang hidup di abad 19. Atraksi utamanya adalah berjalan di atas tali. Ketika mengadakan tur di Amerika, Blondin membentangkan tali di atas air terjun Niagara di perbatasan Amerika dan Kanada. Blondin lalu berjalan di atas tali itu bolak balik dari Amerika ke Kanada dan sebaliknya. Di atraksi selanjutnya, ia berjalan mundur, berjalan dengan membawa gerobak dorong. la juga tiba-tiba salto. Di kesempatan lain, ia berjalan saat malam hanya dengan memakai lilin. la menaiki sepeda, juga egrang, berjalan dengan mata ditutup, membawa meja kursi lalu duduk di tengah tali sambil melipat kaki, bahkan membawa kompor dan memasak di seutas tali yang di bawahnya terbentang air terjun deras. Puncaknya, Blondin mengajak siapa yang mau ia gendong untuk berjalan di atas tali. Akhirnya, Harry Colcord, manajernya yang menjadi sukarelawan. Inilah yang Blondin katakan kepada Colcord: "Ingat, saat kugendong, kau bukan Colcord. Kau menjadi Blondin. Tubuh, pikiran, dan jiwamu harus menyatu denganku. Jangan coba menyeimbangkan dirimu karena itu akan membuat kita berdua mati." Blondin dan Colcord pun menjadi orang pertama yang bergendongan melintasi air terjun Niagara di atas tali. Apa yang diucapkan Blondin adalah deskripsi dari percaya. Menjalani hidup di dunia ini juga adalah perkara hidup mati. Bagaimana kita hidup di dunia menentukan apa yang akan kita alami di kekekalan nanti. Akankah kita mendapat hidup kekal atau kita akan mengalami maut dan siksaan kekal. Saat kita mau percaya bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat kita, kita ibarat digendong-Nya untuk menjalani hidup ini untuk selamat tiba sampai akhirnya. Percaya artinya kita harus menyatu dengan-Nya. Kita bukan lagi diri kita. Hidup kita bukan lagi milik kita (Gal. 2:20). Kehendak kita bukan lagi penentu keputusan kita, tapi semua harus sesuai dengan kehendak Bapa. Kita bisa menyebut diri kita sebagai orang percaya. Sudahkah kita benar-benar percaya pada Tuhan, yang berarti kita benar-benar mau menyerahkan setiap keputusan, setiap langkah, dan rencana kita kepada-Nya? Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, mampukan aku untuk melakukan setiap kehendak-Mu agar hidupku dapat tenang, karena aku tahu kepada siapa aku percaya. Amin. (Dod).

28. juni 20265 min
episode Edisi Hari Sabtu, 27 Juni 2026 - Jujur dan Berintegritas untuk dapat dipercaya cover

Edisi Hari Sabtu, 27 Juni 2026 - Jujur dan Berintegritas untuk dapat dipercaya

Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 27 Juni 2026 Bacaan: "Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya." (Amsal 11:6) Renungan: Ada sebuah kisah yang menceritakan ketika Abraham Lincoln bekerja sebagai penjaga toko di New Salem, Illinois, jauh sebelum Abraham Lincoln terjun di dunia politik. Suatu sore, saat mencatat neraca keuangan, Lincoln mendapati bahwa ia telah memungut bayaran 6 sen lebih banyak dari seorang pelanggan. Sebenarnya bisa saja Lincoln tutup mata soal itu karena nilainya tidak seberapa dan pelanggan tersebut juga tidak merasa kehilangan. Namun yang dilakukan Lincoln sungguh baik. Malam itu juga ia berjalan kaki beberapa mil ke rumah pelanggan untuk mengembalikan kelebihan uang tersebut! Integritas dan sikap jujur inilah yang akhirnya membawa Abraham Lincoln dipercaya dan menjadi salah satu presiden Amerika Serikat yang berhasil dan dicintai rakyatnya. Sesungguhnya kejujuran menjadi hal yang langka di zaman modern seperti sekarang. Kalau menerima kelebihan pembayaran, banyak orang "tutup mata". Banyak alasannya. Pertama, ia merasa kadang juga dirugikan, jadi kalau gantian dapat "untung", apa salahnya? Kedua, salah sendiri mereka yang tidak teliti dalam menghitung. Ketiga, buat apa repot-repot mengurus kembalian kalau konsumen bahkan tidak merasa bayar lebih mahal. Keempat, nilainya tidak seberapa, buat apa dipersoalkan. Firman Tuhan dalam Amsal 11:6 mengatakan, "Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya." Kejujuran akan menolong kita, sebaliknya kecurangan akan mencelakakan kita. Kejujuran akan menjadi "pembela" bagi kita, sedangkan kecurangan akan menjerumuskan kita. Orang dunia mungkin akan mentertawakan kebodohan kita di saat kita bersikap jujur. Mereka mungkin saja tidak percaya masih ada orang jujur di dunia ini. Walau demikian, sebagai murid Kristus marilah kita tunjukkan gaya hidup yang berbeda dari orang dunia. Jadilah orang yang punya integritas dan bisa dipercaya. Semakin kita dipercaya, semakin besar promosi itu akan datang kepada kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, sejak aku mengenal-Mu hatiku begitu tenang. Ketenangan itu juga yang membuat karakter ku berubah. Bantu aku untuk terus mempertahankan kejujuran sebagai bagian dari pengenalanku akan Engkau. Amin. (Dod).

I går4 min
episode Edisi Hari Jumat, 26 Juni 2026 - Sabar, Kendalikan diri dan berpikir jernih cover

Edisi Hari Jumat, 26 Juni 2026 - Sabar, Kendalikan diri dan berpikir jernih

Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 26 Juni 2026 Bacaan: "Sabarlah terhadap semua orang. " (1 Tesalonika 5:14) Renungan: Banyak orang punya masalah dengan emosi. Sangat temperamental dan gampang meledak. Orang seperti ini bisa termasuk tipe gunung merapi yang mudah meletus. Kalau "gunung berapi" ini sudah meletus, keluarlah lahar perkataan yang panas, pedas, tajam, dan menyakitkan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Secara ilmiah, di bagian otak kita ada amygdala yang kerap disebut otak emosi. Amygdala bekerja 80.000 kali lebih cepat dibandingkan otak besar. Karena amygdala bekerja lebih cepat, logika jadi dikalahkan emosi. Untuk mencapai kecepatan yang sama dengan amygdala, otak besar butuh waktu enam detik. Dari perhitungan inilah para ahli jiwa menemukan teori "Jeda Enam Detik", yaitu mengambil jeda selama 6 detik sebelum bicara dan mengambil keputusan saat kita marah atau sedang emosi. Jauh sebelum teori Jeda Enam Detik ditemukan, firman Tuhan sudah memberi nasihat kepada kita yang memiliki problem emosi temperamental. 1 Tesalonika 5:14b mengatakan, "Sabarlah terhadap semua orang." Ketika seseorang menyulut sumbu kemarahan kita, kita tidak akan langsung meledak sebaliknya kita berusaha mengulur-ulur waktu sangat lama untuk kita menjadi marah dan mendidih. Karena waktu "mendidihnya" lama maka kita punya banyak kesempatan untuk menguasai diri, menenangkan diri, dan berpikir jernih sebelum mengambil keputusan yang bodoh. Jadilah sabar. Sabar membebaskan kita dari amarah yang tak terkontrol dan tak terkendali. Sabar menghindarkan kita dari kekeliruan. Dalam Amsal 14:17 dikatakan, "Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar." Apakah kita orang yang bijak ataukah orang yang bodoh, ditentukan oleh seberapa kita sabar. Jadilah pengikut Yesus yang perlu waktu lama untuk mendidih, bukan seperti gunung berapi yang meledak-ledak. Setiap kali hendak meledak, ingatlah untuk mengambil jeda selama enam detik untuk menenangkan diri. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berikanlah aku kesabaran, sehingga masalah apapun yang terjadi dalam hidupku, hatiku dapat tetap tenang menghadapinya. Amin. (Dod).

26. juni 20265 min
episode Edisi Hari Kamis, 25 Juni 2026 - Nyatakan Kasih dan Kebaikan kepada sesama cover

Edisi Hari Kamis, 25 Juni 2026 - Nyatakan Kasih dan Kebaikan kepada sesama

Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 25 Juni 2026 Bacaan: "Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." (Lukas 6:33) Renungan: Senyum adalah salah satu gestur universal manusia. Bahasa manusia boleh berbeda-beda, budaya juga bisa beragam macamnya, tapi di hampir semua tempat, senyuman dimengerti sebagai tanda kegembiraan, keramahan, dan penerimaan. Ketika kita melakukan kebaikan kepada seseorang, maka senyuman dan ucapan terima kasih darinya bukanlah hal yang mengejutkan. Namun ketika kita melakukan kesalahan, ketika kita menumpahkan minuman ke baju seseorang, kita datang terlambat ke satu pertemuan penting, kita berbelok di tikungan yang salah saat mengantarkan seseorang yang sedang buru-buru, tapi orang itu tetap memberikan senyuman, maka perasaan kita akan sangat berbeda dengan situasi pertama tadi. Kita jelas lebih lega. Senyuman itu menjadi lebih berkesan karena kita akan mengingat orang tersebut sebagai orang yang baik, sabar, rendah hati, dst. Ketika kebaikan tampak sulit didapatkan tapi kita justru menerimanya, saat itu akan menjadi momen yang tak terlupakan. Inilah yang diajarkan Yesus kepada kita. Bukan hanya berbuat baik kepada mereka yang baik kepada kita, tapi juga kepada mereka yang telah melukai atau berbuat jahat pada kita. Bukan memberi sesuai apa yang diperintahkan, tapi memberi lebih dari itu. Bukan memberkati dan mendoakan orang yang kita sayangi saja, tapi memberkati dan mendoakan mereka yang mengutuki dan memusuhi kita. Jika itu semua yang kita lakukan, percayalah tindakan itu akan jauh lebih diingat orang. Itulah sesungguhnya yang disebut hidup yang menjadi berkat. Jika kita ingin hidup kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, itu tidak cukup dengan banyak memberi atau berbuat baik saja. Tapi, berilah, nyatakan kasih, dan buatlah kebaikan juga kepada mereka yang seolah tidak pantas untuk menerimanya, yaitu mereka yang membenci, memusuhi, dan menyakiti kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan cinta-Mu, agar aku dapat membagikan cinta-Mu itu kepada orang lain tanpa memandang apakah dia baik bagiku atau mengecewakanku. Amin. (Dod).

24. juni 20265 min
episode Edisi Hari Rabu, 24 Juni 2026 - Rendah hati dan menerima keterbatasan orang lain cover

Edisi Hari Rabu, 24 Juni 2026 - Rendah hati dan menerima keterbatasan orang lain

Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 24 Juni 2026 Bacaan: "Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka." (Lukas 6:31) Renungan: Seorang pria bercerita: "Waktu kecil, aku ingat suatu malam ketika Ibu menyiapkan makan malam setelah seharian kerja yang melelahkan. Saat itu, la menghidangkan telur dadar, sosis, dan beberapa biskuit gosong di hadapan ayahku. Aku menunggu reaksi kaget atau protes ayahku. Tapi, yang Ayah lakukan saat itu justru langsung mengambil biskuit itu, memakannya, sambil bertanya apa yang terjadi di sekolahku hari itu. Sesaat setelah itu, aku mendengar Ibu meminta maaf pada Ayah karena biskuitnya sedikit gosong. Dan Ayah menjawab: 'Tidak apa-apa Sayang, enak kok biskuitnya. Penasaran, aku pun bertanya pada Ayah mengenai apakah ia benar-benar menyukai biskuit gosong ketika kami hanya berdua di kamar. Ayah pun memelukku sambil menjawab: 'Ibumu sudah bekerja keras seharian dan ia sudah lelah. Lagipula, biskuit yang sedikit gosong juga tidak akan membuat perut Ayah atau perutmu sakit, kan?'" Dalam hidup keseharian, kita akan sering menemukan ketidaksempurnaan seperti itu. Biskuit gosong di atas adalah perlambang dari segala kelemahan/perbedaan orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang tua kita mungkin bukanlah orang kaya yang bisa memberi kita berbagai macam fasilitas. Sahabat kita orangnya mungkin sedikit lemot. Teman sekolah kita mungkin punya hobi suka menggosip. Atau, rekan kantor kita mungkin ada yang maunya di zona aman terus, cenderung pasif, dan susah diajak maju. Tapi, coba lihat diri kita sendiri, bukankah kita juga punya kelemahan? Sebagai rekan kerja, misalnya, kita mungkin cenderung berani dan punya ambisi kuat, tapi di sisi lain kita mungkin adalah seorang pelupa. Atau sebagai sahabat, kita mungkin pinter, tapi di sisi lain kita orangnya kurang tepat waktu. Maka, lebih baik syukuri kelemahan dan perbedaan itu daripada mengeluhkan apalagi mengutukinya. Kita tidak mungkin berharap semua orang punya karakter yang baik dan sesuai keinginan kita. Menerima kelemahan orang-orang yang ada di sekitar kita dan perbedaan yang ada, adalah salah satu kunci penting buat menciptakan relasi atau hubungan yang sehat, selalu bertumbuh, dan bertahan lama. Yang penting bukan "biskuit gosongnya", tapi "relasi" kita dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku rahmat kerendahan hati sehingga dapat menerima kekurangan orang-orang di sekitarku dan mampu memotivasi mereka untuk melangkah lebih maju. Amin. (Dod).

23. juni 20265 min