Kencan Dengan Tuhan

Edisi Hari Jumat, 19 Juni 2026 - Setia menjalani Proses sampai tuntas

4 min · 18. juni 2026
episode Edisi Hari Jumat, 19 Juni 2026 - Setia menjalani Proses sampai tuntas cover

Description

Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 19 Juni 2026 Bacaan: Lalu kata malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." (Kejadian 16:9) Renungan: Bisakah kita membayangkan situasi ini? Di saat kita sedang menghadapi pergumulan besar, tiba-tiba Tuhan menjumpai kita melalui sebuah penglihatan. Apa yang kita harapkan dari perjumpaan itu? Tentu saja kita yang sakit, ingin Tuhan memberi mukjizat kesembuhan. Kita yang sedang kekurangan berharap Tuhan akan mencukupkan, bahkan memberikan kelimpahan. Kita yang tidak tahu jalan keluar, tentu berharap Tuhan akan memberikan petunjuk kepada kita. Perjumpaan dengan Tuhan sering dimaknai bahwa Tuhan pasti menjawab pergumulan umat-Nya. Sekarang kita beralih pada kisah Hagar yang pergi meninggalkan rumah Abraham dan Sara karena tidak tahan ditindas oleh nyonyanya itu. Ketika Hagar sampai di padang gurun, maka Malaikat Tuhan menjumpainya. Hagar mungkin membayangkan bahwa Tuhan akan memberikan tuan dan nyonya baru, yang lebih baik dari Sara. Hagar mungkin membayangkan bahwa Tuhan akan membawa ke tempat atau keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Nyatanya bukan seperti itu yang dikatakan oleh Tuhan. Tuhan berkata, "Kembalilah kepada nyonyamu...". Mendengar kalimat ini, Hagar mungkin berpikir kalau Tuhan menyuruh untuk kembali kepada nyonyanya, karena Tuhan akan melembutkan hati Sara supaya tidak menindas dia lagi. Tapi kalimat berikutnya sungguh mengejutkan, karena Tuhan berkata, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." (ay. 9). Bayangkan, disuruh kembali untuk ditindas lagi! Mengapa Tuhan menyuruh Hagar kembali kepada Sara? Karena prosesnya memang belum selesai! Tuhan memang mengizinkan Sara menindas Hagar, tapi pada saat yang sama Tuhan memberikan kekuatan kepada Hagar untuk kuat menanggung segala penindasan itu. Hal yang sama juga berlaku dalam hidup kita. Jika memang proses yang kita jalani belum selesai, jangan buru-buru keluar dari rencana Tuhan. Pastikan kita setia menjalani proses itu hingga tuntas. Percayalah kalau waktunya sudah tiba, Tuhan sendiri yang akan mengeluarkan kita dari semua proses itu dan karakter kita pun akan menjadi lebih indah dari sebelumnya. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk masalah yang Kau izinkan terjadi dalam hidupku. Aku percaya melalui masalah tersebut, Engkau sedang membentuk aku menjadi pribadi yang kuat dan tahan uji. Amin. (Dod).

Comments

0

Be the first to comment

Sign up now and become a member of the Kencan Dengan Tuhan community!

Get Started

1 month for 9 kr.

Then 99 kr. / month · Cancel anytime.

  • Podcasts kun på Podimo
  • 20 lydbogstimer pr. måned
  • Gratis podcasts

All episodes

299 episodes

episode Edisi Hari Selasa, 30 Juni 2026 - Dipakai menjadi Alat Tuhan artwork

Edisi Hari Selasa, 30 Juni 2026 - Dipakai menjadi Alat Tuhan

Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 30 Juni 2026 Bacaan: "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7) Renungan: Pernahkah kita menunggu seorang kurir untuk mengirimkan suatu barang yang kita pesan? Jika kita menunggu kiriman barang penting yang harus segera digunakan, apakah penampilan kurir tersebut menentukan kita akan menerima barang itu atau tidak? Akankah kita menolak sebuah paket jika kurirnya lusuh dan bau keringat? Nyatanya, beberapa jam setelah paket di tangan, kita sudah lupa wajah si kurir. Apa ini berarti pesan lebih penting dari pembawa pesan? Tidak juga. Tanpa ada yang membawakannya, pesan tak akan tersampaikan. Cara kita membawakan pesan juga tetap penting. Berita buruk terasa makin buruk jika dibawakan dengan cara buruk. Sebaliknya, berita buruk yang dibawakan dengan empati dan sopan minimal akan diterima lebih baik, meski tetap menyakitkan. Sadarkah kita bahwa kita semua adalah pembawa pesan? Pesan yang kita bawa adalah kabar baik, yaitu pesan Injil. Karena itu kabar baik, kita sudah punya modal bagus untuk menyampaikan pesan itu. Tapi, sering kali kita memilih untuk tidak menyampaikan pesan itu. Kita beralasan diri kita masih belum cukup baik. Kita merasa tidak pandai bicara. Atau kita merasa pesan Injil itu tidak mendesak untuk disampaikan. Untuk menyampaikan sebuah pesan dengan efektif, kemampuan bicara yang baik, penampilan yang meyakinkan, atau reputasi kita yang menonjol memang membantu. Namun ingat, apa yang harus kita sampaikan bukanlah pesan biasa. Kita menyampaikan pesan Injil yang berkuasa. Pesan itu lebih penting dari si pembawa pesan, karena yang harus ditonjolkan dalam pesan itu adalah pesan Injil Kristus, bukan diri kita. Tidak ada yang tahu nama gadis kecil budak Naaman, tapi semua tahu bagaimana kuasa Tuhan bekerja untuk menyembuhkan Naaman karena pesan yang disampaikan gadis kecil itu. Orang kerasukan setan di Gerasa atau perempuan dengan lima suami di Samaria bukanlah siapa-siapa. Namun, mereka dipakai Tuhan menjadi penginjil yang efektif (Mrk. 5:20, Yoh. 4:39). Kita juga adalah pembawa pesan, kewajiban kita adalah menyampaikan pesan itu melalui sikap, perbuatan dan perkataan kira. Jangan menunggu diri kita sempurna untuk bercerita tentang Tuhan kita yang sempurna. Dialah fokus utamanya, bukan diri kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, urapilah seluruh keberadaan diriku, agar aku dapat Kau pakai menjadi alat-Mu untuk memberitakan Injil-Mu melalui sikap, perkataan dan perbuatanku. Amin. (Dod).

Yesterday5 min
episode Edisi Hari Senin, 29 Juni 2026 - Membuang Sampah Gosip, Pelihara Damai Sejahtera di Hati dan Pikiran artwork

Edisi Hari Senin, 29 Juni 2026 - Membuang Sampah Gosip, Pelihara Damai Sejahtera di Hati dan Pikiran

Kencan Dengan Tuhan - Senin, 29 Juni 2026 Bacaan: "Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri." (Amsal 11:12) Renungan: Apakah kita pernah tidak senang hati bahkan marah jika digosipkan? Fakta yang terjadi adalah kita justru suka menggosipkan orang lain. Ini hal yang mengherankan, kita melakukan sesuatu kepada orang lain untuk hal yang tidak kita inginkan terjadi pada diri kita. Lagipula, sebenarnya kita semua tahu bahwa gosip itu tidak lebih dari sampah. Bagaimana seharusnya pengikut Yesus menangani gosip atau sampah ini? Ada analogi menarik berkenaan dengan hal itu. Ada tiga tipe manusia berkaitan dengan sampah. Pertama, tipe menebarkan. Ada orang yang tidak menaruh sampah pada tempat yang seharusnya. Bahkan, ada orang yang suka membuang sampah sembarangan dan menebarkan sampah di sepanjang jalan yang ia lalui. Dalam dunia gosip, orang seperti ini akan menyebarkan gosip kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Bahkan orang seperti ini bisa menggosipkan sesuatu kepada orang yang baru dikenalnya! Hebat, bukan? Kedua, tipe mengumpulkan. Ada orang tertentu yang suka mengumpulkan sampah. Sampah yang mestinya dibuang, malah dikoleksi. Orang tipe ini tidak selalu menjadi biang gosip, namun yang jelas orang seperti ini suka mengumpulkan berita-berita gosip terbaru. Bayangkan penderitaan batin yang harus ditanggung seseorang yang sedang digosipkan. Sebagai pengikut Yesus kita seharusnya memilih tipe yang ketiga, yaitu tipe membuang. Orang yang sadar lingkungan, tidak akan membiarkan sampah berserakan di jalan. la akan mengambil sampah itu dan membuang ke tempat yang seharusnya. Soal gosip, orang tipe ini sebisa mungkin menghindari gosip. Namun, kalaupun akhirnya ia mendengar sebuah gosip, maka ia akan segera membuang "sampah" itu pada tempatnya dan tidak membiarkan berita itu tersebar ke mana-mana. Gosip itu seperti mata rantai. Kita bisa memutuskan mata rantai yang saling terkait itu dengan bersikap diam. Diam membuat gosip akan berhenti dengan sendirinya. Hari ini, jika ada yang menebarkan "sampah gosip" di depan kita, kita tahu apa yang harus dilakukan. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berikanlah aku pikiran dan hati yang jernih sehingga aku dipenuhi dengan damai sejahtera-Mu dan tidak ada keinginan untuk menggosipkan orang-orang yang ada di sekitarku. Amin. (Dod).

28. juni 20265 min
episode Edisi Hari Minggu, 28 Juni 2026 - Selalu Percaya padaNya artwork

Edisi Hari Minggu, 28 Juni 2026 - Selalu Percaya padaNya

Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 28 Juni 2026 Bacaan: "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup. melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalarn Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20) Renungan: Charles Blondin adalah pemain akrobat terkenal asal Prancis yang hidup di abad 19. Atraksi utamanya adalah berjalan di atas tali. Ketika mengadakan tur di Amerika, Blondin membentangkan tali di atas air terjun Niagara di perbatasan Amerika dan Kanada. Blondin lalu berjalan di atas tali itu bolak balik dari Amerika ke Kanada dan sebaliknya. Di atraksi selanjutnya, ia berjalan mundur, berjalan dengan membawa gerobak dorong. la juga tiba-tiba salto. Di kesempatan lain, ia berjalan saat malam hanya dengan memakai lilin. la menaiki sepeda, juga egrang, berjalan dengan mata ditutup, membawa meja kursi lalu duduk di tengah tali sambil melipat kaki, bahkan membawa kompor dan memasak di seutas tali yang di bawahnya terbentang air terjun deras. Puncaknya, Blondin mengajak siapa yang mau ia gendong untuk berjalan di atas tali. Akhirnya, Harry Colcord, manajernya yang menjadi sukarelawan. Inilah yang Blondin katakan kepada Colcord: "Ingat, saat kugendong, kau bukan Colcord. Kau menjadi Blondin. Tubuh, pikiran, dan jiwamu harus menyatu denganku. Jangan coba menyeimbangkan dirimu karena itu akan membuat kita berdua mati." Blondin dan Colcord pun menjadi orang pertama yang bergendongan melintasi air terjun Niagara di atas tali. Apa yang diucapkan Blondin adalah deskripsi dari percaya. Menjalani hidup di dunia ini juga adalah perkara hidup mati. Bagaimana kita hidup di dunia menentukan apa yang akan kita alami di kekekalan nanti. Akankah kita mendapat hidup kekal atau kita akan mengalami maut dan siksaan kekal. Saat kita mau percaya bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat kita, kita ibarat digendong-Nya untuk menjalani hidup ini untuk selamat tiba sampai akhirnya. Percaya artinya kita harus menyatu dengan-Nya. Kita bukan lagi diri kita. Hidup kita bukan lagi milik kita (Gal. 2:20). Kehendak kita bukan lagi penentu keputusan kita, tapi semua harus sesuai dengan kehendak Bapa. Kita bisa menyebut diri kita sebagai orang percaya. Sudahkah kita benar-benar percaya pada Tuhan, yang berarti kita benar-benar mau menyerahkan setiap keputusan, setiap langkah, dan rencana kita kepada-Nya? Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, mampukan aku untuk melakukan setiap kehendak-Mu agar hidupku dapat tenang, karena aku tahu kepada siapa aku percaya. Amin. (Dod).

28. juni 20265 min
episode Edisi Hari Sabtu, 27 Juni 2026 - Jujur dan Berintegritas untuk dapat dipercaya artwork

Edisi Hari Sabtu, 27 Juni 2026 - Jujur dan Berintegritas untuk dapat dipercaya

Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 27 Juni 2026 Bacaan: "Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya." (Amsal 11:6) Renungan: Ada sebuah kisah yang menceritakan ketika Abraham Lincoln bekerja sebagai penjaga toko di New Salem, Illinois, jauh sebelum Abraham Lincoln terjun di dunia politik. Suatu sore, saat mencatat neraca keuangan, Lincoln mendapati bahwa ia telah memungut bayaran 6 sen lebih banyak dari seorang pelanggan. Sebenarnya bisa saja Lincoln tutup mata soal itu karena nilainya tidak seberapa dan pelanggan tersebut juga tidak merasa kehilangan. Namun yang dilakukan Lincoln sungguh baik. Malam itu juga ia berjalan kaki beberapa mil ke rumah pelanggan untuk mengembalikan kelebihan uang tersebut! Integritas dan sikap jujur inilah yang akhirnya membawa Abraham Lincoln dipercaya dan menjadi salah satu presiden Amerika Serikat yang berhasil dan dicintai rakyatnya. Sesungguhnya kejujuran menjadi hal yang langka di zaman modern seperti sekarang. Kalau menerima kelebihan pembayaran, banyak orang "tutup mata". Banyak alasannya. Pertama, ia merasa kadang juga dirugikan, jadi kalau gantian dapat "untung", apa salahnya? Kedua, salah sendiri mereka yang tidak teliti dalam menghitung. Ketiga, buat apa repot-repot mengurus kembalian kalau konsumen bahkan tidak merasa bayar lebih mahal. Keempat, nilainya tidak seberapa, buat apa dipersoalkan. Firman Tuhan dalam Amsal 11:6 mengatakan, "Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya." Kejujuran akan menolong kita, sebaliknya kecurangan akan mencelakakan kita. Kejujuran akan menjadi "pembela" bagi kita, sedangkan kecurangan akan menjerumuskan kita. Orang dunia mungkin akan mentertawakan kebodohan kita di saat kita bersikap jujur. Mereka mungkin saja tidak percaya masih ada orang jujur di dunia ini. Walau demikian, sebagai murid Kristus marilah kita tunjukkan gaya hidup yang berbeda dari orang dunia. Jadilah orang yang punya integritas dan bisa dipercaya. Semakin kita dipercaya, semakin besar promosi itu akan datang kepada kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, sejak aku mengenal-Mu hatiku begitu tenang. Ketenangan itu juga yang membuat karakter ku berubah. Bantu aku untuk terus mempertahankan kejujuran sebagai bagian dari pengenalanku akan Engkau. Amin. (Dod).

27. juni 20264 min
episode Edisi Hari Jumat, 26 Juni 2026 - Sabar, Kendalikan diri dan berpikir jernih artwork

Edisi Hari Jumat, 26 Juni 2026 - Sabar, Kendalikan diri dan berpikir jernih

Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 26 Juni 2026 Bacaan: "Sabarlah terhadap semua orang. " (1 Tesalonika 5:14) Renungan: Banyak orang punya masalah dengan emosi. Sangat temperamental dan gampang meledak. Orang seperti ini bisa termasuk tipe gunung merapi yang mudah meletus. Kalau "gunung berapi" ini sudah meletus, keluarlah lahar perkataan yang panas, pedas, tajam, dan menyakitkan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Secara ilmiah, di bagian otak kita ada amygdala yang kerap disebut otak emosi. Amygdala bekerja 80.000 kali lebih cepat dibandingkan otak besar. Karena amygdala bekerja lebih cepat, logika jadi dikalahkan emosi. Untuk mencapai kecepatan yang sama dengan amygdala, otak besar butuh waktu enam detik. Dari perhitungan inilah para ahli jiwa menemukan teori "Jeda Enam Detik", yaitu mengambil jeda selama 6 detik sebelum bicara dan mengambil keputusan saat kita marah atau sedang emosi. Jauh sebelum teori Jeda Enam Detik ditemukan, firman Tuhan sudah memberi nasihat kepada kita yang memiliki problem emosi temperamental. 1 Tesalonika 5:14b mengatakan, "Sabarlah terhadap semua orang." Ketika seseorang menyulut sumbu kemarahan kita, kita tidak akan langsung meledak sebaliknya kita berusaha mengulur-ulur waktu sangat lama untuk kita menjadi marah dan mendidih. Karena waktu "mendidihnya" lama maka kita punya banyak kesempatan untuk menguasai diri, menenangkan diri, dan berpikir jernih sebelum mengambil keputusan yang bodoh. Jadilah sabar. Sabar membebaskan kita dari amarah yang tak terkontrol dan tak terkendali. Sabar menghindarkan kita dari kekeliruan. Dalam Amsal 14:17 dikatakan, "Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar." Apakah kita orang yang bijak ataukah orang yang bodoh, ditentukan oleh seberapa kita sabar. Jadilah pengikut Yesus yang perlu waktu lama untuk mendidih, bukan seperti gunung berapi yang meledak-ledak. Setiap kali hendak meledak, ingatlah untuk mengambil jeda selama enam detik untuk menenangkan diri. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berikanlah aku kesabaran, sehingga masalah apapun yang terjadi dalam hidupku, hatiku dapat tetap tenang menghadapinya. Amin. (Dod).

26. juni 20265 min