Radio Elshinta

Pakar Kesehatan Kritik Susu Formula di MBG

44 min · 26 mei 2026
aflevering Pakar Kesehatan Kritik Susu Formula di MBG cover

Beschrijving

Program Badan Gizi Nasional melalui skema Makan Bergizi Gratis atau MBG kembali menjadi sorotan. Kali ini, perhatian publik tertuju pada rencana pemberian susu formula dalam paket makanan bagi anak-anak sekolah. Kebijakan tersebut menuai kritik dari sejumlah pakar kesehatan dan organisasi profesi medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia bahkan telah menyampaikan surat terbuka kepada BGN, yang menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam pemberian susu formula kepada anak, terutama jika dilakukan secara massal dalam program pemerintah.Lalu, apakah susu formula memang diperlukan dalam program MBG? Bagaimana standar medis memandang konsumsi susu formula bagi anak usia sekolah? Dan sejauh mana kebijakan ini tepat sasaran dalam mendukung perbaikan gizi nasional? kami akan membahasnya Bersama Ahli Gizi Komunitas dari Dr. Tan & Remanlay Institute - Dr. dr Tan Shot Yen, M.Hum

Reacties

0

Wees de eerste die een reactie plaatst

Meld je nu aan en word lid van de Radio Elshinta community!

Begin hier

2 maanden voor € 1

Daarna € 9,99 / maand · Elk moment opzegbaar.

  • Podcasts die je alleen op Podimo hoort
  • 20 uur luisterboeken / maand
  • Gratis podcasts

Alle afleveringen

300 afleveringen

aflevering POPSI Kritik Rencana Tata Kelola Ekspor SDA, Khawatirkan Nasib 17 Juta Orang di Industri Sawit artwork

POPSI Kritik Rencana Tata Kelola Ekspor SDA, Khawatirkan Nasib 17 Juta Orang di Industri Sawit

JAKARTA — Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) yang juga Dewan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto, mengkritik rencana pemerintah memperketat tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA), khususnya sektor sawit. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi memicu ketidakpastian pasar, mengganggu rantai usaha sawit nasional, hingga menekan ekonomi masyarakat di daerah. Dalam wawancara di program Elshinta News and Talk, Kamis (21/5/2026), Darto mengatakan pemerintah terlalu fokus menghitung potensi tambahan penerimaan negara dari pencegahan praktik under invoicing dan transfer pricing, namun belum serius menghitung dampak ekonomi di tingkat akar rumput. “Pertanyaan baliknya adalah apakah pemerintah sudah menghitung dampak ekonomi di akar rumput? Karena ketika kita bicara sawit, ini bukan hanya soal ekspor dan devisa, tetapi menyangkut ekosistem ekonomi jutaan orang,” kata Darto. Menurutnya, industri sawit Indonesia berbeda dengan Malaysia yang kerap dijadikan pembanding pemerintah. Ia menilai struktur industri sawit Indonesia jauh lebih kompleks karena melibatkan petani plasma, petani mandiri, buruh sawit, hingga pelaku usaha kecil di daerah. “Di Indonesia ini sawit sudah menjadi ekosistem ekonomi sejak era transmigrasi tahun 1970-an. Ada sekitar 17 juta orang yang hidup dari sektor ini, mulai dari buruh sawit, petani plasma, sampai petani mandiri,” ujarnya. Darto mengungkapkan kekhawatiran bahwa rencana sentralisasi tata kelola ekspor justru telah memicu ketidakpastian di pasar. Ia menyebut harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani mulai turun sejak wacana kebijakan tersebut disampaikan pemerintah. “Hari ini harga TBS sudah turun sekitar Rp200 per kilogram. Bahkan harga CPO yang sebelumnya sekitar Rp15.800 per kilogram turun Rp800 setelah pengumuman Presiden. Ini dampak dari ketidakpastian pasar,” katanya. Menurut Darto, pelaku usaha kini mulai berhati-hati dalam membeli pasokan sawit dari pihak ketiga karena khawatir terhadap mekanisme baru ekspor yang belum jelas. Situasi itu dikhawatirkan akan memukul pabrik sawit skala kecil yang selama ini menjadi penampung hasil petani mandiri. Ia menjelaskan, jika perusahaan besar hanya menyerap pasokan dari kebun milik sendiri, maka pabrik-pabrik kecil akan kehilangan pasar. Dampaknya, petani kesulitan menjual hasil panen dan ekonomi daerah ikut terpukul. “Kalau serapan pasar berhenti, tanki penyimpanan penuh, pabrik berhenti produksi, akhirnya petani tidak bisa menjual TBS. Ini yang harus dipikirkan pemerintah karena risikonya sangat besar terhadap ekonomi pedesaan,” tegasnya. Darto juga mempertanyakan dasar perhitungan pemerintah terkait potensi kebocoran negara akibat praktik manipulasi ekspor sawit yang disebut mencapai miliaran dolar AS setiap tahun. “Pemerintah boleh menghitung keuntungan negara, tetapi angka kerugian akibat transfer pricing dan under invoicing itu juga harus dibuka metodologinya. Tidak semua pelaku usaha melakukan praktik seperti itu dan tidak bisa digeneralisasi,” ujarnya. Selain itu, ia menilai pemerintah belum melibatkan para pemangku kepentingan sawit secara memadai sebelum menggulirkan kebijakan tersebut. “Sampai sekarang belum ada diskusi serius dengan pelaku sawit dan para pemangku kepentingan. Padahal dampaknya akan sangat besar terhadap sektor sawit nasional,” kata Darto.

28 mei 20264 min
aflevering Puncak Haji 2026: Disiplin Jemaah dan Kesiapan Petugas di Armuzna artwork

Puncak Haji 2026: Disiplin Jemaah dan Kesiapan Petugas di Armuzna

Puncak pelaksanaan ibadah haji berlangsung hari ini. Kementerian Haji dan Umroh Republik Indonesia melalui petugas penyelenggara haji mengimbau seluruh jemaah menjaga kondisi kesehatan serta mematuhi aturan selama menjalani rangkaian ibadah di Armuzna, yakni Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Fase ini menjadi tahapan paling krusial dalam ibadah haji karena membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan kedisiplinan tinggi dari para jemaah. Di tengah cuaca ekstrem dan jutaan jemaah yang berkumpul di satu lokasi, aspek kesehatan serta manajemen pergerakan menjadi faktor penting agar seluruh rangkaian ibadah berjalan aman dan lancar. Lalu, bagaimana kesiapan petugas menghadapi puncak haji tahun ini? Sejauh mana kedisiplinan jemaah menentukan kelancaran pelaksanaan ibadah? Simak perbincangan bersama Wakil Ketua Umum MUI yang juga Ketua Musyrif Dini Haji 2026, KH. Dr. Cholil Nafis

26 mei 202623 min