Rangkai Kata Rupawan

Dibawah Kibaran Sarung

3 min · 22. maj 2020
episode Dibawah Kibaran Sarung cover

Description

Di bawah kibaran sarung anak-anak berangkat tidur di haribaan malam. Tidur mereka seperti tidur yang baka. Tidur yang dijaga dan disambangi seorang lelaki kurus dengan punggung melengkung, mata yang dalam dan cekung. “Hidup orang miskin!” pekiknya sambil membentangkan sarung. “Hidup sarung!” seru seorang perempuan, sahabat malam, yang tekun mendengarkan hujan. Lalu ia mainkan piano, piano tua, di dada lelaki itu. “Simfoni batukmu, nada-nada sakitmu, musik klasikmu mengalun merdu sepanjang malam,” hibur perempuan itu dengan mata setengah terpejam. Di bawah kibaran sarung rumah adalah kampung. Kampung kecil di mana kau bisa ngintip yang serba gaib: kisah senja, celoteh cinta, sungai coklat, dada langsat, parade susu, susu cantik, dan pantat nungging yang kausebut nasib. Kampung kumuh di mana penyakit, onggokan sampah, sumpah serapah, anjing kawin, maling mabuk, piring pecah, tikus ngamuk adalah tetangga. “Rumahku adalah istanaku,” kata perempuan itu sambil terus memainkan pianonya, piano tua, piano kesayangan. “Rumahku adalah kerandaku,” timpal lelaki itu sambil terus meletupkan batuknya, batuk darah, batuk kemenangan. Dan seperti keranda mencari penumpang, dari jauh terdengar suara andong memanggil pulang. Kling klong kling klong. Di bawah kibaran sarung aku tuliskan puisimu, di rumah kecil yang dingin terpencil. Seperti perempuan perkasa yang betah berjaga menemani kantuk, menemani sakit di remang cahaya: menghitung iga, memainkan piano di dada lelaki tua yang gagap mengucap doa. Ya, kutuliskan puisimu, kulepaskan ke seberang seperti kanak-kanak berangkat tidur di haribaan malam. Ayo temui aku di bawah kibaran sarung, di tempat yang jauh terlindung. Jokpin 1999

Comments

0

Be the first to comment

Sign up now and become a member of the Rangkai Kata Rupawan community!

Get Started

1 month for 9 kr.

Then 99 kr. / month · Cancel anytime.

  • Podcasts kun på Podimo
  • 20 lydbogstimer pr. måned
  • Gratis podcasts

All episodes

9 episodes

episode Di Bawah Kibaran Sarung - Joko Pinurbo artwork

Di Bawah Kibaran Sarung - Joko Pinurbo

Di bawah kibaran sarung anak-anak berangkat tidur di haribaan malam. Tidur mereka seperti tidur yang baka. Tidur yang dijaga dan disambangi seorang lelaki kurus dengan punggung melengkung, mata yang dalam dan cekung. “Hidup orang miskin!” pekiknya sambil membentangkan sarung. “Hidup sarung!” seru seorang perempuan, sahabat malam, yang tekun mendengarkan hujan. Lalu ia mainkan piano, piano tua, di dada lelaki itu. “Simfoni batukmu, nada-nada sakitmu, musik klasikmu mengalun merdu sepanjang malam,” hibur perempuan itu dengan mata setengah terpejam. Di bawah kibaran sarung rumah adalah kampung. Kampung kecil di mana kau bisa ngintip yang serba gaib: kisah senja, celoteh cinta, sungai coklat, dada langsat, parade susu, susu cantik, dan pantat nungging yang kausebut nasib. Kampung kumuh di mana penyakit, onggokan sampah, sumpah serapah, anjing kawin, maling mabuk, piring pecah, tikus ngamuk adalah tetangga. “Rumahku adalah istanaku,” kata perempuan itu sambil terus memainkan pianonya, piano tua, piano kesayangan. “Rumahku adalah kerandaku,” timpal lelaki itu sambil terus meletupkan batuknya, batuk darah, batuk kemenangan. Dan seperti keranda mencari penumpang, dari jauh terdengar suara andong memanggil pulang. Kling klong kling klong. Di bawah kibaran sarung aku tuliskan puisimu, di rumah kecil yang dingin terpencil. Seperti perempuan perkasa yang betah berjaga menemani kantuk, menemani sakit di remang cahaya: menghitung iga, memainkan piano di dada lelaki tua yang gagap mengucap doa. Ya, kutuliskan puisimu, kulepaskan ke seberang seperti kanak-kanak berangkat tidur di haribaan malam. Ayo temui aku di bawah kibaran sarung, di tempat yang jauh terlindung. (1999) Joko Pinurbo

24. maj 20205 min
episode Dibawah Kibaran Sarung artwork

Dibawah Kibaran Sarung

Di bawah kibaran sarung anak-anak berangkat tidur di haribaan malam. Tidur mereka seperti tidur yang baka. Tidur yang dijaga dan disambangi seorang lelaki kurus dengan punggung melengkung, mata yang dalam dan cekung. “Hidup orang miskin!” pekiknya sambil membentangkan sarung. “Hidup sarung!” seru seorang perempuan, sahabat malam, yang tekun mendengarkan hujan. Lalu ia mainkan piano, piano tua, di dada lelaki itu. “Simfoni batukmu, nada-nada sakitmu, musik klasikmu mengalun merdu sepanjang malam,” hibur perempuan itu dengan mata setengah terpejam. Di bawah kibaran sarung rumah adalah kampung. Kampung kecil di mana kau bisa ngintip yang serba gaib: kisah senja, celoteh cinta, sungai coklat, dada langsat, parade susu, susu cantik, dan pantat nungging yang kausebut nasib. Kampung kumuh di mana penyakit, onggokan sampah, sumpah serapah, anjing kawin, maling mabuk, piring pecah, tikus ngamuk adalah tetangga. “Rumahku adalah istanaku,” kata perempuan itu sambil terus memainkan pianonya, piano tua, piano kesayangan. “Rumahku adalah kerandaku,” timpal lelaki itu sambil terus meletupkan batuknya, batuk darah, batuk kemenangan. Dan seperti keranda mencari penumpang, dari jauh terdengar suara andong memanggil pulang. Kling klong kling klong. Di bawah kibaran sarung aku tuliskan puisimu, di rumah kecil yang dingin terpencil. Seperti perempuan perkasa yang betah berjaga menemani kantuk, menemani sakit di remang cahaya: menghitung iga, memainkan piano di dada lelaki tua yang gagap mengucap doa. Ya, kutuliskan puisimu, kulepaskan ke seberang seperti kanak-kanak berangkat tidur di haribaan malam. Ayo temui aku di bawah kibaran sarung, di tempat yang jauh terlindung. Jokpin 1999

22. maj 20203 min
episode Ibu Kopi artwork

Ibu Kopi

Malam saya terbuat dari jalanan kampung yang basah, hujan yang baru saja mati, rindu yang hampir kedaluwarsa, sepi yang tak lagi berfungsi, dan seorang penjual kopi yang mondar-mandir mendorong gerobak kopinya. Sendok kopi memukul-mukul cangkir kopi dan suara kopi memantul-mantul di jidat para penggemar kopi yang sedang berjuang melawan kantuk dan lupa. Harum kopinya terbuat dari harum darahnya. Hitam kopinya terbuat dari hitam nasibnya. Ia masih muda, sekian tahun yang silam diambil negara di sebuah huru-hara, dan sampai sekarang masih dicari-cari oleh ibunya. Sendok kopi memukul-mukul cangkir kopi. Saya datang mau membeli kopi, tapi si penjual kopi tak ada. Saya hanya bertemu dengan gerobak kopinya. Saya hanya mendengar suaranya: “Minumlah kopiku sebagai kenangan akan daku.” Malam saya terbuat dari jalanan kampung yang basah, hujan yang baru saja mati, dan seorang ibu yang berjalan sendirian mendorong gerobak kopi anaknya. “Selamat malam, Bu. Semua kopi menyayangimu.” Jokpin 2014

22. maj 20202 min