Radio Elshinta

Mengapa Rupiah Lebih Terpukul Dibanding Mata Uang Negara Tetangga?

38 min · 28. maj 2026
episode Mengapa Rupiah Lebih Terpukul Dibanding Mata Uang Negara Tetangga? cover

Description

Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia dan Asia Tenggara. Di saat dolar Amerika Serikat memang masih kuat secara global, sejumlah mata uang negara tetangga seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, hingga baht Thailand justru mulai menunjukkan penguatan ataupun stabilitas. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik, mengapa rupiah terlihat lebih terpukul dibanding negara-negara lain di kawasan? Apakah pelemahan ini murni dipengaruhi faktor global seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik dunia, atau ada persoalan domestik yang ikut memengaruhi kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia? Talk bersama Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli.

Comments

0

Be the first to comment

Sign up now and become a member of the Radio Elshinta community!

Get Started

2 months for 19 kr.

Then 99 kr. / month · Cancel anytime.

  • Podcasts kun på Podimo
  • 20 lydbogstimer pr. måned
  • Gratis podcasts

All episodes

300 episodes

episode Pancasila di Tengah Tantangan Zaman: Perekat Bangsa, Inspirasi Perdamaian Dunia artwork

Pancasila di Tengah Tantangan Zaman: Perekat Bangsa, Inspirasi Perdamaian Dunia

Pancasila kembali menjadi refleksi penting bagi bangsa Indonesia di tengah berbagai tantangan zaman. Mulai dari persoalan sosial, derasnya arus informasi di ruang digital, hingga konflik yang masih terjadi di berbagai belahan dunia, nilai-nilai Pancasila dinilai tetap relevan sebagai perekat persatuan dan pedoman kehidupan berbangsa. Dalam rangka Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 yang mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", bagaimana implementasi nilai-nilai Pancasila menghadapi dinamika saat ini? Sejauh mana Pancasila dapat menjadi kontribusi Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia? Simak perbincangan bersama Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Dr. Darmansjah Djumala, S.E., M.A., https://elshinta.com/indeks/dalam-negeri/bpip-pancasila-diakui-dunia-dan-tetap-relevan-hadapi-disrupsi-digital-165605

31. maj 202645 min
episode Firman Subagyo Soroti Anjloknya Harga TBS Sawit, Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Picu Bottleneck artwork

Firman Subagyo Soroti Anjloknya Harga TBS Sawit, Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Picu Bottleneck

Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Subagyo, menyoroti turunnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di berbagai daerah setelah pemerintah menerapkan kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Menurutnya, kebijakan tersebut menimbulkan hambatan rantai pasok ekspor yang berdampak langsung pada harga TBS di tingkat petani.Hal tersebut disampaikan Firman Subagyo dalam wawancara bersama Radio Elshinta pada Sabtu (30/5/2026). Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama merosotnya harga TBS adalah terjadinya bottleneck atau antrean ekspor akibat seluruh ekspor crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) harus melalui PT DSI.“Terjadi bottleneck atau antrean ekspor. Dengan sistem satu pintu, seluruh ekspor CPO dan PKO harus melalui DSI terlebih dahulu. Sementara kapasitas gudang, kapal, perizinan, dan sumber daya manusia yang dimiliki masih sangat terbatas,” kata Firman kepada Radio Elshinta.Akibat keterbatasan tersebut, lanjutnya, stok CPO di sejumlah pabrik kelapa sawit menumpuk karena tidak dapat segera diekspor seperti sebelumnya. Kondisi itu membuat perusahaan mengurangi pembelian TBS dari petani maupun mitra plasma.“Ketika stok CPO menumpuk dan tangki penyimpanan penuh, pabrik terpaksa mengurangi serapan TBS dari petani. Jika pabrik tidak lagi menyerap hasil panen secara optimal, maka harga TBS langsung jatuh mengikuti mekanisme pasar,” ujarnya.Firman mengungkapkan, sebelum kebijakan ekspor satu pintu diterapkan, harga TBS di sejumlah daerah masih berada pada kisaran Rp3.500 hingga Rp3.700 per kilogram. Namun kini harga tersebut turun menjadi sekitar Rp2.500 hingga Rp2.700 per kilogram.Menurutnya, penurunan harga yang cukup tajam ini berpotensi mengurangi pendapatan jutaan petani sawit yang selama ini bergantung pada stabilitas harga TBS.Data pemerintah juga menunjukkan dampak kebijakan tersebut mulai dirasakan luas di lapangan. Tercatat sebanyak 139 pabrik kelapa sawit telah menurunkan harga pembelian TBS dari petani.Firman meminta pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap implementasi kebijakan ekspor satu pintu agar tidak menimbulkan dampak negatif yang berkepanjangan terhadap sektor perkebunan sawit nasional.“Kita harus memastikan kebijakan yang dibuat tidak merugikan petani. Sawit merupakan salah satu tulang punggung ekonomi nasional dan sumber penghidupan jutaan masyarakat di daerah,” tegasnya.Ia berharap pemerintah dapat segera mencari solusi untuk memperlancar proses ekspor, meningkatkan kapasitas operasional DSI, serta menjaga stabilitas harga TBS agar kesejahteraan petani sawit tetap terjaga.

Yesterday2 min