Radio Elshinta

Daging Dam Jamaah Haji Akan Dikirim untuk Warga Palestina

4 min · 23 de may de 2026
Portada del episodio Daging Dam Jamaah Haji Akan Dikirim untuk Warga Palestina

Descripción

Pemerintah menyepakati bahwa mayoritas daging Dam milik jamaah haji yang disembelih di Tanah Suci akan dikemas secara khusus dan dikirimkan untuk membantu pemenuhan gizi saudara sesama muslim di Palestina. (BEH/MCH 2026) LAPORAN BHERY HAMZAH

Comentarios

0

Sé la primera persona en comentar

¡Regístrate ahora y únete a la comunidad de Radio Elshinta!

Empezar

2 meses por 1 €

Después 4,99 € / mes · Cancela cuando quieras.

  • Podcasts exclusivos
  • 20 horas de audiolibros / mes
  • Podcast gratuitos

Todos los episodios

300 episodios

Portada del episodio Firman Subagyo Soroti Anjloknya Harga TBS Sawit, Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Picu Bottleneck

Firman Subagyo Soroti Anjloknya Harga TBS Sawit, Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Picu Bottleneck

Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Subagyo, menyoroti turunnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di berbagai daerah setelah pemerintah menerapkan kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Menurutnya, kebijakan tersebut menimbulkan hambatan rantai pasok ekspor yang berdampak langsung pada harga TBS di tingkat petani.Hal tersebut disampaikan Firman Subagyo dalam wawancara bersama Radio Elshinta pada Sabtu (30/5/2026). Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama merosotnya harga TBS adalah terjadinya bottleneck atau antrean ekspor akibat seluruh ekspor crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) harus melalui PT DSI.“Terjadi bottleneck atau antrean ekspor. Dengan sistem satu pintu, seluruh ekspor CPO dan PKO harus melalui DSI terlebih dahulu. Sementara kapasitas gudang, kapal, perizinan, dan sumber daya manusia yang dimiliki masih sangat terbatas,” kata Firman kepada Radio Elshinta.Akibat keterbatasan tersebut, lanjutnya, stok CPO di sejumlah pabrik kelapa sawit menumpuk karena tidak dapat segera diekspor seperti sebelumnya. Kondisi itu membuat perusahaan mengurangi pembelian TBS dari petani maupun mitra plasma.“Ketika stok CPO menumpuk dan tangki penyimpanan penuh, pabrik terpaksa mengurangi serapan TBS dari petani. Jika pabrik tidak lagi menyerap hasil panen secara optimal, maka harga TBS langsung jatuh mengikuti mekanisme pasar,” ujarnya.Firman mengungkapkan, sebelum kebijakan ekspor satu pintu diterapkan, harga TBS di sejumlah daerah masih berada pada kisaran Rp3.500 hingga Rp3.700 per kilogram. Namun kini harga tersebut turun menjadi sekitar Rp2.500 hingga Rp2.700 per kilogram.Menurutnya, penurunan harga yang cukup tajam ini berpotensi mengurangi pendapatan jutaan petani sawit yang selama ini bergantung pada stabilitas harga TBS.Data pemerintah juga menunjukkan dampak kebijakan tersebut mulai dirasakan luas di lapangan. Tercatat sebanyak 139 pabrik kelapa sawit telah menurunkan harga pembelian TBS dari petani.Firman meminta pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap implementasi kebijakan ekspor satu pintu agar tidak menimbulkan dampak negatif yang berkepanjangan terhadap sektor perkebunan sawit nasional.“Kita harus memastikan kebijakan yang dibuat tidak merugikan petani. Sawit merupakan salah satu tulang punggung ekonomi nasional dan sumber penghidupan jutaan masyarakat di daerah,” tegasnya.Ia berharap pemerintah dapat segera mencari solusi untuk memperlancar proses ekspor, meningkatkan kapasitas operasional DSI, serta menjaga stabilitas harga TBS agar kesejahteraan petani sawit tetap terjaga.

30 de may de 20262 min
Portada del episodio Kejar target B50, Kementan optimalkan produksi sawit tanpa perluas lahan

Kejar target B50, Kementan optimalkan produksi sawit tanpa perluas lahan

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) RI tengah melakukan pergeseran strategi besar dalam pengelolaan kelapa sawit nasional. Di tengah ambisi besar pemerintah untuk mempercepat program biodiesel B50 hingga B100, Kementan memilih untuk fokus pada intensifikasi kebun yang sudah ada daripada melakukan ekstensifikasi atau pembukaan lahan baru. Direktur Perbenihan Perkebunan Kementan, Ebi Rulianti, mengungkapkan bahwa dalam satu dekade terakhir, produktivitas kelapa sawit di Indonesia relatif stagnan. Hal ini menjadi tantangan serius mengingat kelapa sawit merupakan penyumbang devisa non-migas terbesar bagi negara. "Kita tidak bisa hanya mengandalkan ekstensifikasi lahan. Harus ada upaya bagaimana kita mengintensifkan kebun yang ada," ujar Ebi dalam diskusi di podcast Elshinta, yang dilihat Jumat, (29/5/2026). Untuk mencapai target tersebut, Kementan bersama asosiasi pengusaha (GAPKI) melakukan introduksi tiga spesies serangga penyerbuk asal Afrika, yakni Elaeidobius kamerunicus, subvittatus, dan plagiatus. Inovasi ini dilakukan sebagai jawaban atas rendahnya fruit set atau proses pembentukan buah yang terjadi selama ini karena menurunnya kinerja serangga penyerbuk alami. Ebi menjelaskan bahwa selama ini, banyak perusahaan perkebunan terpaksa mengeluarkan biaya operasional yang sangat besar untuk melakukan polinasi manual atau asisten polinasi dengan tenaga manusia. Proses ini tidak hanya mahal, tetapi juga memerlukan kompetensi khusus. "Satu, kita harus mengumpulkan polen (serbuk sari). Itu prosesnya mahal juga, tingkat keberhasilannya juga khawatir terkontaminasi segala macam, dan harus punya tenaga orang terampil," jelas Ebi. Dengan adanya bantuan serangga penyerbuk, Kementan menargetkan peningkatan keberhasilan pembuahan alami hingga 70 persen. Ebi optimistis jika faktor pendukung lainnya seperti pemupukan dan pengendalian hama berjalan dengan baik, maka kenaikan produksi dapat mencapai setidaknya 10 persen. "Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, kami merangkul pengusaha dan asosiasi petani untuk mencari solusi atas stagnasi ini. Semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui salah satunya kelapa sawit ini," tambah Ebi. Saat ini, Kementan telah menerapkan sistem monitoring digital melalui profiling data di setiap perusahaan yang tergabung dalam konsorsium. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa serangga penyerbuk dapat bertahan hidup (survive) dan terus berkembang biak di lapangan, sehingga target produksi nasional dapat tercapai lebih cepat guna mendukung ketahanan energi nasional.

30 de may de 20262 min
Portada del episodio Petani sawit menjerit akibat harga sawit turun drastis sejak pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia, apa solusinya?

Petani sawit menjerit akibat harga sawit turun drastis sejak pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia, apa solusinya?

Harga tandan buah segar atau TBS kelapa sawit di berbagai daerah sentra produksi dilaporkan turun drastis dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah asosiasi petani menyebut penurunan terjadi setelah munculnya rencana penataan ekspor sawit melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang akan menjadi pintu utama ekspor komoditas tersebut. Di beberapa wilayah, harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.800 hingga Rp3.500 per kilogram turun ratusan hingga lebih dari seribu rupiah per kilogram. Petani mengaku terpukul karena biaya produksi seperti pupuk, pestisida, hingga ongkos panen terus meningkat, sementara pendapatan mereka tergerus tajam. Pemerintah menilai penurunan harga ini lebih disebabkan oleh faktor psikologis pasar dan ketidakpastian pelaku usaha terhadap mekanisme kebijakan baru. Pemerintah juga menegaskan bahwa aktivitas ekspor tetap berjalan dan meminta pemerintah daerah mengawasi agar pabrik kelapa sawit membeli TBS sesuai aturan yang berlaku. Lalu apa solusinya? Pertama, pemerintah perlu segera menerbitkan aturan teknis yang jelas dan transparan agar tidak menimbulkan spekulasi di pasar. Ketidakjelasan mekanisme perdagangan dan ekspor menjadi pemicu utama kepanikan yang akhirnya berdampak langsung kepada petani. Kedua, pengawasan harga di tingkat pabrik harus diperketat agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi dengan membeli hasil panen petani di bawah harga yang wajar. Ketiga, pemerintah dapat memperkuat sistem harga acuan nasional yang lebih transparan sehingga petani memiliki kepastian harga dan tidak terlalu rentan terhadap gejolak pasar. Usulan ini juga muncul dari sejumlah organisasi petani sawit yang menginginkan tata niaga lebih terbuka dan akuntabel. Yang menjadi pertanyaan, apakah pembenahan tata kelola ekspor sawit melalui Danantara akan mampu meningkatkan kesejahteraan petani dalam jangka panjang, atau justru menambah ketidakpastian di lapangan? Di tengah kontribusi sawit sebagai penopang ekonomi jutaan keluarga Indonesia, kebijakan yang diambil pemerintah akan sangat menentukan nasib petani ke depan. TALK :: Ketua Umum Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) Mansuetus Darto & Pengamat Ekonomi, Irwan Ibrahim

Ayer12 min
Portada del episodio Ekspor SDA Diperketat, Bagaimana Nasib Petani Sawit Indonesia?

Ekspor SDA Diperketat, Bagaimana Nasib Petani Sawit Indonesia?

Pemerintah tengah menyiapkan kebijakan baru tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) yang disebut bertujuan memperkuat pengawasan dan menutup kebocoran devisa negara. Namun di sisi lain, kebijakan ini juga memunculkan kekhawatiran dari kalangan petani sawit terkait potensi melemahnya persaingan pasar dan dampaknya terhadap harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.Lalu, apakah kebijakan ini akan memperkuat ekonomi nasional atau justru menekan kesejahteraan petani sawit? Simak pembahasannya dalam Talk High Light Radio Elshinta bersama Mansuetus Darto, Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), Kamis 21 Mei 2026 pukul 08.05 WIB hanya di Radio Elshinta 90 FM Jakarta dan jaringan Radio Elshinta.#TalkHighLight [https://www.youtube.com/hashtag/talkhighlight] #RadioElshinta [https://www.youtube.com/hashtag/radioelshinta] #SawitIndonesia [https://www.youtube.com/hashtag/sawitindonesia] #MansuetusDarto [https://www.youtube.com/hashtag/mansuetusdarto] #POPSI [https://www.youtube.com/hashtag/popsi] #EksporSDA [https://www.youtube.com/hashtag/eksporsda] #PetaniSawit [https://www.youtube.com/hashtag/petanisawit] #HargaTBS [https://www.youtube.com/hashtag/hargatbs] #EkonomiIndonesia [https://www.youtube.com/hashtag/ekonomiindonesia] #Sawit [https://www.youtube.com/hashtag/sawit] #Elshinta90FM [https://www.youtube.com/hashtag/elshinta90fm]

Ayer30 min
Portada del episodio Pro Kontra pelibatan anggota TNI dalam upaya memberantas begal, apa yang harus diwaspadai?

Pro Kontra pelibatan anggota TNI dalam upaya memberantas begal, apa yang harus diwaspadai?

Aksi begal yang semakin meresahkan di sejumlah daerah memunculkan wacana pelibatan anggota TNI untuk membantu pengamanan dan pemberantasan kejahatan jalanan. Sebagian masyarakat mendukung langkah ini karena dianggap mampu memberi efek tegas dan rasa aman yang cepat. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran soal batas kewenangan aparat militer dalam penegakan hukum sipil. Lalu, sejauh mana pelibatan TNI diperlukan? Apakah langkah ini efektif menekan aksi kriminal, atau justru berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam penanganan keamanan dalam negeri? Dalam episode kali ini, kita akan membahas pro dan kontra pelibatan anggota TNI dalam memberantas begal, termasuk apa saja yang perlu diwaspadai agar upaya menjaga keamanan tetap berjalan tanpa mengabaikan aturan hukum dan hak masyarakat. TALK :: Sosiolog Kriminalitas, Dosen Purna UGM, Dr. Drs. Soeprapto, S.U. & Praktisi Hukum, Pengacara Publik, Ralian Jawalsen

28 de may de 202611 min