Radio Elshinta

Satu Komando Jadi Kunci Haji Ramah Lansia dan Disabilitas

3 min · 23 de may de 2026
Portada del episodio Satu Komando Jadi Kunci Haji Ramah Lansia dan Disabilitas

Descripción

Penegakan kedisiplinan dan kepatuhan terhadap sistem satu komando menjadi harga mati dalam operasional puncak haji tahun ini. Langkah proteksi ini diambil sebagai bentuk komitmen penuh negara dalam mengawal visi Haji Ramah Lansia dan Disabilitas, sehingga tidak ada oknum lembaga bimbingan yang mengorbankan kenyamanan jamaah demi kepentingan kelompoknya. (BEH/MCH 2026) LAPORAN : BHERY HAMZAH

Comentarios

0

Sé la primera persona en comentar

¡Regístrate ahora y únete a la comunidad de Radio Elshinta!

Empezar

2 meses por 1 €

Después 4,99 € / mes · Cancela cuando quieras.

  • Podcasts exclusivos
  • 20 horas de audiolibros / mes
  • Podcast gratuitos

Todos los episodios

300 episodios

Portada del episodio Pro Kontra pelibatan anggota TNI dalam upaya memberantas begal, apa yang harus diwaspadai?

Pro Kontra pelibatan anggota TNI dalam upaya memberantas begal, apa yang harus diwaspadai?

Aksi begal yang semakin meresahkan di sejumlah daerah memunculkan wacana pelibatan anggota TNI untuk membantu pengamanan dan pemberantasan kejahatan jalanan. Sebagian masyarakat mendukung langkah ini karena dianggap mampu memberi efek tegas dan rasa aman yang cepat. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran soal batas kewenangan aparat militer dalam penegakan hukum sipil. Lalu, sejauh mana pelibatan TNI diperlukan? Apakah langkah ini efektif menekan aksi kriminal, atau justru berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam penanganan keamanan dalam negeri? Dalam episode kali ini, kita akan membahas pro dan kontra pelibatan anggota TNI dalam memberantas begal, termasuk apa saja yang perlu diwaspadai agar upaya menjaga keamanan tetap berjalan tanpa mengabaikan aturan hukum dan hak masyarakat. TALK :: Sosiolog Kriminalitas, Dosen Purna UGM, Dr. Drs. Soeprapto, S.U. & Praktisi Hukum, Pengacara Publik, Ralian Jawalsen

Ayer11 min
Portada del episodio Mengapa Rupiah Lebih Terpukul Dibanding Mata Uang Negara Tetangga?

Mengapa Rupiah Lebih Terpukul Dibanding Mata Uang Negara Tetangga?

Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia dan Asia Tenggara. Di saat dolar Amerika Serikat memang masih kuat secara global, sejumlah mata uang negara tetangga seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, hingga baht Thailand justru mulai menunjukkan penguatan ataupun stabilitas. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik, mengapa rupiah terlihat lebih terpukul dibanding negara-negara lain di kawasan? Apakah pelemahan ini murni dipengaruhi faktor global seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik dunia, atau ada persoalan domestik yang ikut memengaruhi kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia? Talk bersama Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli.

Ayer38 min
Portada del episodio POPSI Kritik Rencana Tata Kelola Ekspor SDA, Khawatirkan Nasib 17 Juta Orang di Industri Sawit

POPSI Kritik Rencana Tata Kelola Ekspor SDA, Khawatirkan Nasib 17 Juta Orang di Industri Sawit

JAKARTA — Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) yang juga Dewan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto, mengkritik rencana pemerintah memperketat tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA), khususnya sektor sawit. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi memicu ketidakpastian pasar, mengganggu rantai usaha sawit nasional, hingga menekan ekonomi masyarakat di daerah. Dalam wawancara di program Elshinta News and Talk, Kamis (21/5/2026), Darto mengatakan pemerintah terlalu fokus menghitung potensi tambahan penerimaan negara dari pencegahan praktik under invoicing dan transfer pricing, namun belum serius menghitung dampak ekonomi di tingkat akar rumput. “Pertanyaan baliknya adalah apakah pemerintah sudah menghitung dampak ekonomi di akar rumput? Karena ketika kita bicara sawit, ini bukan hanya soal ekspor dan devisa, tetapi menyangkut ekosistem ekonomi jutaan orang,” kata Darto. Menurutnya, industri sawit Indonesia berbeda dengan Malaysia yang kerap dijadikan pembanding pemerintah. Ia menilai struktur industri sawit Indonesia jauh lebih kompleks karena melibatkan petani plasma, petani mandiri, buruh sawit, hingga pelaku usaha kecil di daerah. “Di Indonesia ini sawit sudah menjadi ekosistem ekonomi sejak era transmigrasi tahun 1970-an. Ada sekitar 17 juta orang yang hidup dari sektor ini, mulai dari buruh sawit, petani plasma, sampai petani mandiri,” ujarnya. Darto mengungkapkan kekhawatiran bahwa rencana sentralisasi tata kelola ekspor justru telah memicu ketidakpastian di pasar. Ia menyebut harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani mulai turun sejak wacana kebijakan tersebut disampaikan pemerintah. “Hari ini harga TBS sudah turun sekitar Rp200 per kilogram. Bahkan harga CPO yang sebelumnya sekitar Rp15.800 per kilogram turun Rp800 setelah pengumuman Presiden. Ini dampak dari ketidakpastian pasar,” katanya. Menurut Darto, pelaku usaha kini mulai berhati-hati dalam membeli pasokan sawit dari pihak ketiga karena khawatir terhadap mekanisme baru ekspor yang belum jelas. Situasi itu dikhawatirkan akan memukul pabrik sawit skala kecil yang selama ini menjadi penampung hasil petani mandiri. Ia menjelaskan, jika perusahaan besar hanya menyerap pasokan dari kebun milik sendiri, maka pabrik-pabrik kecil akan kehilangan pasar. Dampaknya, petani kesulitan menjual hasil panen dan ekonomi daerah ikut terpukul. “Kalau serapan pasar berhenti, tanki penyimpanan penuh, pabrik berhenti produksi, akhirnya petani tidak bisa menjual TBS. Ini yang harus dipikirkan pemerintah karena risikonya sangat besar terhadap ekonomi pedesaan,” tegasnya. Darto juga mempertanyakan dasar perhitungan pemerintah terkait potensi kebocoran negara akibat praktik manipulasi ekspor sawit yang disebut mencapai miliaran dolar AS setiap tahun. “Pemerintah boleh menghitung keuntungan negara, tetapi angka kerugian akibat transfer pricing dan under invoicing itu juga harus dibuka metodologinya. Tidak semua pelaku usaha melakukan praktik seperti itu dan tidak bisa digeneralisasi,” ujarnya. Selain itu, ia menilai pemerintah belum melibatkan para pemangku kepentingan sawit secara memadai sebelum menggulirkan kebijakan tersebut. “Sampai sekarang belum ada diskusi serius dengan pelaku sawit dan para pemangku kepentingan. Padahal dampaknya akan sangat besar terhadap sektor sawit nasional,” kata Darto.

Ayer4 min