Design 1:1

Design 1:1 - Bady Abbas - Desain Visual & Prototyping

41 min · 3. feb. 202141 min
episode Design 1:1 - Bady Abbas - Desain Visual & Prototyping cover

Beskrivelse

Bidang UX semakin matang jika dibandingkan 10-15 tahun lalu, terutama di Indonesia. Jika dulu perusahaan hanya memahami UX dari sisi desain visual atau user interface, sekarang UX mencakup area yang lebih luas lagi, seperti riset dan konten. Desainer UX juga diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan UI atau visual saja.   Namun, banyak dari kita yang memulai karir dari desain visual. Desain visual juga masih menjadi bagian penting, dan ada beberapa desainer yang punya kemampuan utama di bidang ini, seperti Bady Abbas. Sekarang bekerja sebagai VP/Design Lead di DBS Bank, Singapura, ia masih membagi waktu antara mengelola tim dan mendesain interface. Mereka yang tahu soal kiprah Kang Bady, pasti tahu begitu populernya beliau di Dribbble sekitar tahun 2010-2015, mungkin bisa dibilang desainer UI Indonesia yang paling populer di platform tersebut untuk kurun waktu itu. Kemampuan desain visual, ikonografi dan fotografinya membuat Bady menjadi idola desainer bahkan sampai sekarang. Selain itu, Bady juga fokus pada kemampuan prototyping UX, mulai dari AfterEffects, Flinto, Principle dan sekarang Figma. Namun, ia tetap setia pada satu prototyping tool - apa itu? Simak di video ini ya.  Pesan Bady untuk semua desainer: tidak masalah di mana kita "masuk" ke dunia UX, apakah itu dari desain visual atau konten, yang penting tetap mengasah kemampuan, konsisten dan jangan pernah menyerah.

Kommentarer

0

Vær den første til å kommentere

Registrer deg nå og bli medlem av Design 1:1 sitt community!

Kom i gang

2 Måneder for 19 kr

Deretter 99 kr / Måned · Avslutt når som helst.

  • Eksklusive podkaster
  • 20 timer lydbøker i måneden
  • Gratis podkaster
Kom i gang

Alle episoder

17 Episoder

episode On Self-Worth and Layoffs cover

On Self-Worth and Layoffs

I talk in Indonesian but there is a subtitle.    In this episode, I talk about how I tried to improve my self-worth as a designer - the kind of self-worth I am talking about is the one about confidence, self-esteem and the ability to move on from adversity. This has something to do with the layoff that happened to me many years ago. Hope it can be useful for you too.   --- Artikel terkait: https://www.belajar-ux.com/p/bagaiman... [https://www.youtube.com/redirect?event=video_description&redir_token=QUFFLUhqbWlvRlYtRG1kMkF1NTRtSHVCTGJaV3VHQ244QXxBQ3Jtc0trRGZrcUtDNUZKMkFCYXZsY0piWkZNOGFqYmtUdnFxLWFHakUtZGdUQno3UE5nbmxoU1BCZzJWZjVwem44TVhRV0xPSkxFNlpQcmNVYUVVejlxaTUzdXQwdU9ZZHBORTEydUZKRVJqUS10VVFScnNGNA&q=https%3A%2F%2Fwww.belajar-ux.com%2Fp%2Fbagaimana-menghadapi-phk&v=j3peTaFrObk]  Dalam episode kali ini, saya membahas tentang “self-worth” sebagai desainer. Saya berbicara tentang menghargai diri, kepercayaan diri, motivasi diri dan kemampuan move on dari trauma/kesulitan. Terutama tentang kejadian PHK yang banyak terjadi akhir-akhir ini, yang juga saya alami sendiri.

27. feb. 202311 min
episode Design 1:1 - Dhea Sekararum - Menghadapi "Imposter Syndrome" cover

Design 1:1 - Dhea Sekararum - Menghadapi "Imposter Syndrome"

Apa itu "imposter syndrome" dan kenapa ia sering disebut-sebut? Contoh sederhananya adalah ketika kita mulai kerja di tempat baru, apalagi dengan teman kerja yang lebih senior atau berpengalaman. Kita merasa minder, merasa diri kita lebih tidak berkemampuan dari yang lain. Akhirnya, kita stres, burnout dan resign.  Apakah hal ini normal? Menurut Dhea, hal ini normal dan lumrah, karena setiap masuk ke lingkungan baru pasti ada penyesuaian diri dari kultur lama ke kultur baru. Apa saja tips dan trik yang bisa kita manfaatkan demi menyesuaikan diri lebih lancar di pekerjaan baru? Atau jika kita masih memiliki rasa minder walau sudah lama bekerja di perusahaan tersebut, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya?

19. okt. 202154 min
episode Design 1:1 - Bady Abbas - Desain Visual & Prototyping cover

Design 1:1 - Bady Abbas - Desain Visual & Prototyping

Bidang UX semakin matang jika dibandingkan 10-15 tahun lalu, terutama di Indonesia. Jika dulu perusahaan hanya memahami UX dari sisi desain visual atau user interface, sekarang UX mencakup area yang lebih luas lagi, seperti riset dan konten. Desainer UX juga diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan UI atau visual saja.   Namun, banyak dari kita yang memulai karir dari desain visual. Desain visual juga masih menjadi bagian penting, dan ada beberapa desainer yang punya kemampuan utama di bidang ini, seperti Bady Abbas. Sekarang bekerja sebagai VP/Design Lead di DBS Bank, Singapura, ia masih membagi waktu antara mengelola tim dan mendesain interface. Mereka yang tahu soal kiprah Kang Bady, pasti tahu begitu populernya beliau di Dribbble sekitar tahun 2010-2015, mungkin bisa dibilang desainer UI Indonesia yang paling populer di platform tersebut untuk kurun waktu itu. Kemampuan desain visual, ikonografi dan fotografinya membuat Bady menjadi idola desainer bahkan sampai sekarang. Selain itu, Bady juga fokus pada kemampuan prototyping UX, mulai dari AfterEffects, Flinto, Principle dan sekarang Figma. Namun, ia tetap setia pada satu prototyping tool - apa itu? Simak di video ini ya.  Pesan Bady untuk semua desainer: tidak masalah di mana kita "masuk" ke dunia UX, apakah itu dari desain visual atau konten, yang penting tetap mengasah kemampuan, konsisten dan jangan pernah menyerah.

3. feb. 202141 min
episode Design 1:1 - Wahyuni Febriani - Mengasah Kemampuan "Unlearning" cover

Design 1:1 - Wahyuni Febriani - Mengasah Kemampuan "Unlearning"

Ketika mendengar kata "unlearning", apa yang ada di benak pikiran kita? Proses "tidak-belajar"? Apakah kita harus tidak belajar?   Bertahun-tahun kita menempuh pendidikan formal dan informal, yang selalu diminta adalah kita untuk bisa belajar terus-menerus. Menjadi tidak tahu menjadi tahu. Menjadi lebih baik. Menjadi lebih pintar. Tahukah anda jika ada proses "unlearning" juga penting di balik semua proses "learning"? Ketika kita berpikir kritis dan mempertanyakan, "apakah yang kita pelajari selama ini sudah benar dan berlaku untuk semua situasi?"  Bidang UX juga sama. Banyak teori, framework dan perspektif yang menjadi "pakem", tapi ternyata tidak bisa begitu saja dipraktekkan dalam situasi-situasi tertentu. Pendidikan yang kita tempuh mengajarkan "happy path" tapi tidak "edge cases". Untuk itu, terkadang perlu untuk "zoom out" dan melihat suatu masalah dari perspektif berbeda, membuang semua yang kita ketahui dan kita yakini selama ini, demi memahami masalah dan menemukan cara yang tepat guna dan tepat sasaran untuk memecahkan masalah itu.  Wahyuni Febriani adalah UX Consultant di NAS Consulting Indonesia, menempuh pendidikan di University College London (UCL) program Master of Science (MSc), Human Computer Interaction, yang akan mencerahkan kita semua tentang proses dan pentingnya "unlearning" sebagai praktisi UX.

14. des. 202040 min