Kencan Dengan Tuhan

Edisi Hari Rabu, 10 Juni 2026 - Percaya, berserah, dan bersandar padaNya

5 min · 9. Juni 2026
Episode Edisi Hari Rabu, 10 Juni 2026 - Percaya, berserah, dan bersandar padaNya Cover

Beschreibung

Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 10 Juni 2026 Bacaan: Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu la tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu." (1 Korintus 10:13) Renungan: Ketika seorang guru memberi pertanyaan kepada muridnya, sesungguhnya guru tersebut bertanya bukan karena tidak tahu. Sang guru bertanya untuk menguji seperti apa pemahaman muridnya. Guru tersebut sebenarnya sudah punya jawaban dari pertanyaan yang ia berikan. Demikian juga halnya dengan hidup kita. Ketika Tuhan mengizinkan masalah, pergumulan, dan persoalan hidup datang dalam hidup kita, sesungguhnya Tuhan pun sudah punya solusi untuk tiap masalah yang kita hadapi. Dalam 1 Korintus 10:13 dikatakan, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu la tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. " Artinya, Tuhan sudah menakar masalah kita dan memastikan bahwa ujian hidup itu sudah terukur. Seorang guru tidak mungkin memberikan soal siswa SMU kepada siswa SD, bukan? Demikianlah Tuhan sudah mengetahui bahwa masalah kita ada di dalam kesanggupan kita. Berikutnya dikatakan bahwa, "Pada waktu kamu dicobai la akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." Kita yang dicobai, tapi Tuhan yang memberikan jalan keluar. Itu sebabnya, saat kita menghadapi masalah maka sudah seharusnya alamat pertama yang kita tuju adalah Tuhan. Ayat tersebut berkata dengan jelas bahwa Tuhanlah yang akan memberi jalan keluar, bukan orang lain, bukan juga diri kita sendiri. Tuhan memberi jalan keluar karena jawaban dari segala persoalan hidup kita sudah ada di tangan-Nya. Jika kita masih mencari-cari jawaban di luar Tuhan, alangkah bodohnya kita. Apakah saat ini kita sedang berhadapan dengan masalah besar? Jangan takut. Jangan khawatir. Serahkan masalah kita kepada Tuhan. Percayalah kepada-Nya dan jangan bersandar pada pengertian kita sendiri. Ketika kita mengandalkan Tuhan, kita akan melihat bagaimana dengan cara ajaib Tuhan akan menolong dan memberikan jalan keluar kepada kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk firman-Mu yang menguatkan hatiku. Tambahkanlah imanku agar aku semakin percaya dan mengandalkan Engkau saat masalah melanda hidupku. Amin. (Dod).

Kommentare

0

Sei die erste Person, die kommentiert

Melde dich jetzt an und werde Teil der Kencan Dengan Tuhan-Community!

Loslegen

2 Monate für 1 €

Dann 4,99 € / Monat · Jederzeit kündbar.

  • Podcasts nur bei Podimo
  • 20 Stunden Hörbücher / Monat
  • Alle kostenlosen Podcasts

Alle Folgen

299 Folgen

Episode Edisi Hari Kamis, 9 Juli 2026 - Berpikir dan berkata-kata positif Cover

Edisi Hari Kamis, 9 Juli 2026 - Berpikir dan berkata-kata positif

Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 9 Juli 2026 Bacaan: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21) Renungan: Suatu hari seorang istri mengeluh karena minggu ini ia terlalu lelah. Kerjaan menumpuk, anak rewel minta ditemenin belajar. Suaminya pulang kerja terus rebahan main HP. Tanpa sadar ia kesal dan berkata kepada suaminya: "Kamu sih tahunya cuma enak-enak rebahan. Gak pernah mikirin rumah ini!" Suaminya pun diam. Malam itu suasana rumah menjadi dingin. Dua hari kemudian giliran ia yang sakit. Anak-anak yang biasanya deket dengannya menjadi takut karena melihat papa mamanya tegang. Ia pun tersadar. Satu kalimat emosinya malam itu "mematikan" suasana rumah selama dua hari. Padahal kalau ia bilang: "Pa, aku capek. Boleh tolong temenin anak belajar 30 menit?" pasti jawabannya berbeda. Amsal 18:21 ini berisi peringatan keras dari Raja Salomo tentang kuasa dari kata-kata: "Hidup dan mati dikuasai lidah". Di rumah, lidah kita bisa jadi sumber kehidupan atau sumber kematian. Dengan kata-kata kita bisa menghidupkan semangat pasangan, menguatkan anak yang gagal, memberkati keluarga. Tapi dengan kata-kata juga kita bisa melukai hati pasangan, mematikan semangat anak, dan merusak keharmonisan rumah. Rumah tangga kita adalah cermin dari apa yang sering kita ucapkan. Suka mengeluh, maka rumah penuh keluhan. Suka mengucap syukur dan menguatkan, maka rumah penuh damai. Keluarga adalah tempat pertama kita latihan memakai lidah. Tiga hal yang bisa kita latih mulai saat ini: 1. Ganti kritik dengan permintaan. Dari perkataan, "Aku sibuk, jadi lupa" menjadi "Sayang, boleh tolong ingetin aku ya" 2. Perbanyak kata penguat untuk anak. Perkataan, "Mama bangga kamu sudah berusaha", lebih menghidupkan daripada "Nilainya kok segitu-segitu aja". 3. Doa berkat sebelum tidur. Ucapkan satu kalimat berkat untuk tiap anggota keluarga. Itu seperti menyiram tanaman di rumah. Ingat, anak-anak kita tidak akan ingat seberapa rapi rumah kita. Tapi mereka akan ingat: "Di rumah ini, kata-kata apa yang paling sering ia dengar." Tuhan Yesus memberkati. DOA: Tuhan Yesus, ampunilah aku kalau selama ini lidahku sering melukai orang-orang yang paling aku kasihi di rumah. Ajarilah aku menjadi pembawa damai di tengah keluargaku. Berikan hikmat supaya setiap kata yang keluar dari mulutku adalah kata yang membangun, menguatkan, dan memberkati. Amin. (Dod).

Gestern6 min
Episode Edisi Hari Rabu, 8 Juli 2026 - Tetap lakukan kebaikan dalam keadaan apapun Cover

Edisi Hari Rabu, 8 Juli 2026 - Tetap lakukan kebaikan dalam keadaan apapun

Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 8 Juli 2026 Bacaan: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:21) Renungan: Suatu kali ada seorang teman guru dari sekolah lain bercerita bahwa di grup WA orang tua murid, ada 1 orang tua yang tiba-tiba menyerang kebijakan sekolah. Kata-katanya pedas, menuduh, bahkan menyeret nama guru. Tangannya gatal mau membalas. Mau sekalian "membongkar" juga keburukan dia. Tapi ia menahan diri. Ia menarik napas, lalu mulai menjawab: "Terima kasih sudah peduli. Boleh kita bicara 4 mata? Saya rindu mendengar masukannya langsung." Anehnya, dua hari kemudian dia chat pribadi dan minta maaf. Katanya dia malu sendiri karena direspon dengan baik. Baru sadar ternyata "melawan api dengan air" itu benar-benar bisa memadamkan. Roma 12:21 ini ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma yang hidup di tengah tekanan, fitnah, dan perlakuan tidak adil. Dunia berkata: "Lawan dan sakiti orang yang menyakitimu. Tapi Tuhan bilang: "Jangan kalah terhadap kejahatan. Kalahkan kejahatan dengan kekebaikan." Kata "kalahkan" di sini bukan berarti kita jadi lemah. Justru butuh kekuatan besar untuk tidak membalas. Kebaikan adalah senjata yang mematahkan lingkaran kebencian. Kita hidup saat ini di era yang cepat tersulut: Di media sosial, satu komentar jahat dibalas 10 komentar lebih jahat. Di rumah, satu kata ketus dibalas dengan membentak. Di kantor/sekolah, satu gosip dibalas dengan menjatuhkan. Tuhan hari ini menguji kita: Mau jadi pemadam atau penambah api? Mungkin kita tidak bisa mengubah karakter orang yang buruk. Tapi kita bisa memilih untuk tidak jadi sama seperti dia. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, sering kali aku kalah terhadap amarah dan keinginan membalas. Hari ini ajarilah aku untuk meneladani-Mu yang membalas kejahatan dengan pengampunan. Berilah aku kekuatan untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, mulai dari rumahku, sekolahku, dan lingkunganku. Pakailah hidupku menjadi alat damai-Mu. Amin. (Dod).

7. Juli 20264 min
Episode Edisi Hari Selasa, 7 Juli 2026 - Berani jujur dan siap dibentuk Tuhan Cover

Edisi Hari Selasa, 7 Juli 2026 - Berani jujur dan siap dibentuk Tuhan

Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 7 Juli 2026 Bacaan: "Manusia itu menjawab: 'Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.'" (Kejadian 3:12) Renungan: Suatu kali Anna ditegur atasan karena laporan keuangan telat. Anna sebenarnya yang salah karena ia lupa mengingatkan tim. Tapi apa jawaban pertama Anna? "Pak, si Yordan yang pegang datanya. Saya sudah bilang kok, tapi dia tidak kirim-kirim." Selesai bicara Anna menjadi lega. Rasanya beban pindah ke Yordan. Malamnya barulah Anna sadar. Ia baru saja melakukan hal yang sama seperti Adam di taman Eden. Menyalahkan orang lain supaya ia tidak terlihat salah. Kejadian 3:12 ini terjadi sesaat setelah Adam dan Hawa makan buah terlarang. Tuhan datang dan bertanya. Seharusnya ini momen pertobatan. Tapi lihat jawaban Adam. Pertama, ia menyalahkan Tuhan dengan berkata, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku." Seolah Tuhan yang salah kasih pasangan. Kedua, ia menyalahkan orang lain, "Dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan. " Adam tidak berani bertanggung jawab dalam hal ini. Dosa pertama manusia bukan hanya tidak taat pada perintah Tuhan. Dosa pertama juga "tidak mau mengakui salah". Dari taman Eden sampai kantor, rumah, dan sekolah kita hari ini, polanya sama. Hati kita lebih memilih membela diri daripada jujur di hadapan Tuhan dan sesama. Di zaman sekarang kita punya 1001 cara untuk "melempar kesalahan": "Grup WA yang tidak dibaca, sinyal jelek, anak yang rewel, pasangan yang tidak mengerti, sistem yang ribet dsb." Tapi Tuhan hari ini mengajak kita untuk berhenti jadi "Adam". Keberanian berkata "Tuhan, aku salah" adalah awal pemulihan. Di keluarga: minta maaf dulu sebelum menjelaskan. Di kantor: akui bagian kita sebelum menunjuk orang. Di hadapan Tuhan: buka hati apa adanya, jangan berdalih. Ingatlah, Tuhan tidak mencari orang yang sempurna. Tuhan mencari orang yang jujur dan mau diperbaiki. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, Ampuni aku yang sering seperti Adam. Lebih cepat menyalahkan orang lain daripada mengakui kesalahanku sendiri. Amin. (Dod).

6. Juli 20264 min
Episode Edisi Hari Senin, 6 JUli 2026 - Sikap respek dan menerima orang lain apa adanya Cover

Edisi Hari Senin, 6 JUli 2026 - Sikap respek dan menerima orang lain apa adanya

Kencan Dengan Tuhan - Senin, 6 Juli 2026 Bacaan: Lalu berkatalah yang seorang kepada yang lain: "Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini ialah hari kabar baik, tetapi kita ini tinggal diam saja. Apabila kita menanti sampai terang pagi, maka hukuman akan menimpa kita. Jadi sekarang, marilah kita pergi menghadap untuk memberitahukan hal itu ke istana raja." (2 Raja-raja 7:9) Renungan: Di zaman Israel kuno, salah satu penyakit yang paling ditakuti adalah kusta. Mengapa? Karena penyakit ini tak hanya memberikan rasa sakit secara fisik, tapi juga menyerang mental penderitanya. Bagaimana tidak? Orang kusta akan dicap sebagai orang yang kena tulah dan dikutuk Allah. Orang kusta juga diasingkan dan begitu direndahkan. Bacaan kita hari ini sungguh menarik untuk kita renungkan. Orang kusta yang selama ini diremehkan justru menjadi pahlawan Israel. Sementara rakyat Israel mengalami kelaparan hebat, orang-orang kusta inilah yang memberi tahu mereka bahwa tentara Aram sudah meninggalkan perkemahannya dan meninggalkan banyak perbekalan. Padahal bisa saja orang-orang kusta itu "balas dendam" dan membiarkan rakyat Israel kelaparan sementara mereka bisa menikmati makanan secara berlimpah. Bisa kita bayangkan betapa malunya rakyat Israel saat mengetahui bahwa orang-orang kusta inilah yang menolong mereka dengan mengabarkan berita baik itu. Orang-orang yang selama ini mereka rendahkan justru menjadi pahlawan bagi mereka. Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini? Janganlah kita suka meremehkan, merendahkan, melakukan hal yang jahat, atau memusuhi seseorang. Kita tidak pernah tahu bahwa orang yang kita jahati adalah orang yang kelak kita mintai pertolongan! Bayangkan betapa malunya kita jika hal itu sampai terjadi. Lebih malu lagi kalau orang itu bersedia menolong kita! Orang yang kita remehkan, bisa saja kelak menjadi orang terhormat. Orang yang kita anggap bawahan, bisa saja menjadi atasan kita. Orang yang kita sangka buruk, bisa saja ternyata adalah orang baik yang tidak pernah memamerkan kebaikannya. Orang yang kita jahati, bisa saja orang itu membalasnya dengan berbuat baik kepada kita. Karena itu marilah kita tidak jemu-jemu berbuat baik kepada setiap orang. Singkirkan prasangka-prasangka dan penilaian lahiriah yang nyatanya sering terbukti salah itu. Kita tidak pernah tahu bahwa kita sedang menabur kebaikan yang suatu kali kelak akan kita tuai pada waktu yang tepat. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku hati seperti hati-Mu. Hati yang bisa menerima setiap orang apa adanya dan tidak menganggap rendah mereka. Amin. (Dod).

5. Juli 20265 min
Episode Edisi Hari Minggu, 5 Juli 2026 - Berani bersuara dan memberi solusi Cover

Edisi Hari Minggu, 5 Juli 2026 - Berani bersuara dan memberi solusi

Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 5 Juli 2026 Bacaan: Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia, hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu." (1 Samuel 17:32) Renungan: Ketika kita mendengar kata "jenius", siapa sosok yang terlintas di benak kita? Albert Einstein mungkin salah satunya. Einstein memang diakui dunia akan kejeniusannya. Tapi, ada hal-hal tertentu di mana kita mungkin "lebih cerdas" dari Einstein. Jika tiap hari kita bisa pulang ke rumah tanpa tersesat, kita lebih pintar dari Einstein. Ya, walau punya otak jenius, Einstein dikenal pelupa untuk hal sehari-hari seperti mengingat tanggal, bahkan nomor teleponnya sendiri. la juga sering kesulitan menemukan rumahnya. Itu sebabnya, konon pintu rumahnya lalu dicat merah menyala, kontras dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Dengan begitu, Einstein akan ingat yang manakah rumahnya. Orang jenius pun tidak selalu jenius di segala bidang. Demikian juga, meski kita tidak pernah meraih Nobel atau menemukan rumus dan teori tertentu, tapi kita pun kadang bisa juga menjadi jenius. Nah, kapan itu terjadi? Kita jenius saat berhasil menemukan solusi yang sebelumnya tidak disadari atau tidak terlihat dari sebuah masalah. Kita jenius ketika bisa mengatasi kebuntuan yang dialami orang-orang. Pernahkah kita menemukan jalan pintas atau cara mudah melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang lain atau orang di sekitar kita? Apakah kita pernah menemukan cara untuk "menghidupkan lagi" sesuatu yang lama tidak dilakukan? Pernahkah kita menyelesaikan masalah yang selama ini memusingkan keluarga kita? Apakah kita pernah berhasil melakukan pendekatan pribadi kepada seseorang yang sebelumnya tak bisa didekati orang lain? Mungkin banyak di antara kita pernah melakukan hal-hal di atas. Memang, kejeniusan seperti itu sering kali tak dihargai masyarakat. Atau kadang kita enggan melakukan hal-hal itu demi menjaga ketenangan agar tidak dianggap cari muka, aneh, sok tahu, bahkan mengganggu. Di Alkitab pun, para pahlawan selalu adalah mereka yang berani bersuara dan berani bertindak meski sebagian orang bisa jadi menganggap mereka mengganggu. Jika Daud diam melihat Goliat, jika ia tak tergerak mendengar hujatan Goliat, atau ia menyerah saat diremehkan kakaknya dan Saul, tentu tak ada kisah heroik ini. Ya, jadilah Daud Daud di manapun kita berada, yang berani bersuara dan memberi solusi. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, terima kasih atas akal budi yang Kau berikan padaku. Bantulah aku agar akal budi yang Kau berikan dapat kugunakan untuk memberkati sesamaku. Amin. (Dod).

5. Juli 20266 min