Kencan Dengan Tuhan

Edisi Hari Selasa, 23 Juni 2026 - Ubah Keterbatasan jadi kekuatan

5 min · Ayer
Portada del episodio Edisi Hari Selasa, 23 Juni 2026 - Ubah Keterbatasan jadi kekuatan

Descripción

Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 23 Juni 2026 Bacaan: Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Keluaran 4:10) Renungan: Rowan Atkinson lahir dalam keluarga ekonomi menengah dan mengalami banyak kesulitan ketika kanak-kanak karena masalah gagapnya. Di sekolah, ia sering kali di bully dan dianggap seperti alien. Ketika ia fokus di bidang ilmu pengetahuan, gurunya pun berkata kalo ia sama sekali tidak menonjol. Tapi di kemudian hari, ia berhasil membuktikan diri. la diterima di Universitas Oxford dan meraih gelar master dalam bidang teknik elektro. Setelah itu, ia mulai mengejar kemampuannya dalam bidang akting. Lagi-lagi karena masalah gagapnya, ia banyak ditolak oleh stasiun televisi. Tapi ia tidak pernah menyerah terhadap kemampuannya. la terus mengembangkan gaya komedinya sendiri dan akhirnya terciptalah karakter Mr. Bean yang mendunia. Rowan secara tidak langsung sudah membuktikan bahwa tanpa tubuh kekar dan wajah Hollywood pun, ia bisa menjadi aktor yang disayangi dan dihormati di dunia perfilman. Kisah hidup Mr. Bean bener-bener menunjukkan kalau hal yang terpenting untuk meraih keberhasilan adalah kemampuan, kerja keras, dan sikap pantang menyerah. Dalam Alkitab, ada juga seorang tokoh yang punya masalah dalam hal komunikasi. la adalah Musa. Waktu Tuhan memintanya memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, ia sendiri yang mengakui kelemahannya itu: "Ya, Tuhan, saya bukan orang yang pandai bicara, baik dahulu maupun sekarang, sesudah TUHAN bicara kepada saya. Saya berat lidah, bicara lambat dan tidak lancar." Tapi Tuhan sendiri kemudian yang meyakinkan dan memampukannya. Kelemahannya ini nggak jadi masalah sebab Musa sendiri akhirnya berhasil memimpin bangsa Israel selama puluhan tahun. Tidak ada orang yang lahir sempurna. Semua orang pasti punya kelemahannya masing-masing. Bahkan orang berhasil yang kita kenal sekarang pun pasti punya kelemahan. Yang kita lakukan seharusnya bukanlah fokus pada kelemahan, tapi pada kemampuan yang diimbangi dengan kerja keras, dan sikap pantang menyerah. Asal kita punya semua itu, ditambah dengan penyertaan Tuhan tentunya, maka kita bisa jadi apa pun yang kita mau. Tiap orang punya kelemahan, tapi tiap orang juga bisa berhasil. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, kuserahkan keterbatasanku ke dalam tangan-Mu. Aku percaya melalui berkat-Mu maka keterbatasanku akan Kau ubah menjadi kekuatanku. Amin. (Dod).

Comentarios

0

Sé la primera persona en comentar

¡Regístrate ahora y únete a la comunidad de Kencan Dengan Tuhan!

Empezar

2 meses por 1 €

Después 4,99 € / mes · Cancela cuando quieras.

  • Podcasts exclusivos
  • 20 horas de audiolibros / mes
  • Podcast gratuitos

Todos los episodios

299 episodios

Portada del episodio Edisi Hari Rabu, 24 Juni 2026 - Rendah hati dan menerima keterbatasan orang lain

Edisi Hari Rabu, 24 Juni 2026 - Rendah hati dan menerima keterbatasan orang lain

Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 24 Juni 2026 Bacaan: "Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka." (Lukas 6:31) Renungan: Seorang pria bercerita: "Waktu kecil, aku ingat suatu malam ketika Ibu menyiapkan makan malam setelah seharian kerja yang melelahkan. Saat itu, la menghidangkan telur dadar, sosis, dan beberapa biskuit gosong di hadapan ayahku. Aku menunggu reaksi kaget atau protes ayahku. Tapi, yang Ayah lakukan saat itu justru langsung mengambil biskuit itu, memakannya, sambil bertanya apa yang terjadi di sekolahku hari itu. Sesaat setelah itu, aku mendengar Ibu meminta maaf pada Ayah karena biskuitnya sedikit gosong. Dan Ayah menjawab: 'Tidak apa-apa Sayang, enak kok biskuitnya. Penasaran, aku pun bertanya pada Ayah mengenai apakah ia benar-benar menyukai biskuit gosong ketika kami hanya berdua di kamar. Ayah pun memelukku sambil menjawab: 'Ibumu sudah bekerja keras seharian dan ia sudah lelah. Lagipula, biskuit yang sedikit gosong juga tidak akan membuat perut Ayah atau perutmu sakit, kan?'" Dalam hidup keseharian, kita akan sering menemukan ketidaksempurnaan seperti itu. Biskuit gosong di atas adalah perlambang dari segala kelemahan/perbedaan orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang tua kita mungkin bukanlah orang kaya yang bisa memberi kita berbagai macam fasilitas. Sahabat kita orangnya mungkin sedikit lemot. Teman sekolah kita mungkin punya hobi suka menggosip. Atau, rekan kantor kita mungkin ada yang maunya di zona aman terus, cenderung pasif, dan susah diajak maju. Tapi, coba lihat diri kita sendiri, bukankah kita juga punya kelemahan? Sebagai rekan kerja, misalnya, kita mungkin cenderung berani dan punya ambisi kuat, tapi di sisi lain kita mungkin adalah seorang pelupa. Atau sebagai sahabat, kita mungkin pinter, tapi di sisi lain kita orangnya kurang tepat waktu. Maka, lebih baik syukuri kelemahan dan perbedaan itu daripada mengeluhkan apalagi mengutukinya. Kita tidak mungkin berharap semua orang punya karakter yang baik dan sesuai keinginan kita. Menerima kelemahan orang-orang yang ada di sekitar kita dan perbedaan yang ada, adalah salah satu kunci penting buat menciptakan relasi atau hubungan yang sehat, selalu bertumbuh, dan bertahan lama. Yang penting bukan "biskuit gosongnya", tapi "relasi" kita dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku rahmat kerendahan hati sehingga dapat menerima kekurangan orang-orang di sekitarku dan mampu memotivasi mereka untuk melangkah lebih maju. Amin. (Dod).

23 de jun de 20265 min
Portada del episodio Edisi Hari Selasa, 23 Juni 2026 - Ubah Keterbatasan jadi kekuatan

Edisi Hari Selasa, 23 Juni 2026 - Ubah Keterbatasan jadi kekuatan

Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 23 Juni 2026 Bacaan: Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Keluaran 4:10) Renungan: Rowan Atkinson lahir dalam keluarga ekonomi menengah dan mengalami banyak kesulitan ketika kanak-kanak karena masalah gagapnya. Di sekolah, ia sering kali di bully dan dianggap seperti alien. Ketika ia fokus di bidang ilmu pengetahuan, gurunya pun berkata kalo ia sama sekali tidak menonjol. Tapi di kemudian hari, ia berhasil membuktikan diri. la diterima di Universitas Oxford dan meraih gelar master dalam bidang teknik elektro. Setelah itu, ia mulai mengejar kemampuannya dalam bidang akting. Lagi-lagi karena masalah gagapnya, ia banyak ditolak oleh stasiun televisi. Tapi ia tidak pernah menyerah terhadap kemampuannya. la terus mengembangkan gaya komedinya sendiri dan akhirnya terciptalah karakter Mr. Bean yang mendunia. Rowan secara tidak langsung sudah membuktikan bahwa tanpa tubuh kekar dan wajah Hollywood pun, ia bisa menjadi aktor yang disayangi dan dihormati di dunia perfilman. Kisah hidup Mr. Bean bener-bener menunjukkan kalau hal yang terpenting untuk meraih keberhasilan adalah kemampuan, kerja keras, dan sikap pantang menyerah. Dalam Alkitab, ada juga seorang tokoh yang punya masalah dalam hal komunikasi. la adalah Musa. Waktu Tuhan memintanya memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, ia sendiri yang mengakui kelemahannya itu: "Ya, Tuhan, saya bukan orang yang pandai bicara, baik dahulu maupun sekarang, sesudah TUHAN bicara kepada saya. Saya berat lidah, bicara lambat dan tidak lancar." Tapi Tuhan sendiri kemudian yang meyakinkan dan memampukannya. Kelemahannya ini nggak jadi masalah sebab Musa sendiri akhirnya berhasil memimpin bangsa Israel selama puluhan tahun. Tidak ada orang yang lahir sempurna. Semua orang pasti punya kelemahannya masing-masing. Bahkan orang berhasil yang kita kenal sekarang pun pasti punya kelemahan. Yang kita lakukan seharusnya bukanlah fokus pada kelemahan, tapi pada kemampuan yang diimbangi dengan kerja keras, dan sikap pantang menyerah. Asal kita punya semua itu, ditambah dengan penyertaan Tuhan tentunya, maka kita bisa jadi apa pun yang kita mau. Tiap orang punya kelemahan, tapi tiap orang juga bisa berhasil. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, kuserahkan keterbatasanku ke dalam tangan-Mu. Aku percaya melalui berkat-Mu maka keterbatasanku akan Kau ubah menjadi kekuatanku. Amin. (Dod).

Ayer5 min
Portada del episodio Edisi Hari Senin, 22 Juni 2026 - Menghargai waktu

Edisi Hari Senin, 22 Juni 2026 - Menghargai waktu

Kencan Dengan Tuhan - Senin, 22 Juni 2026 Bacaan: "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:15-16) Renungan: Manusia memiliki banyak cara menghitung waktu. Kita juga mengenal banyak alat untuk melakukan itu semua, mulai dari kalender, jam, hingga stopwatch. Bahkan sebagian orang mengeluarkan uang berjuta-juta hingga milyaran rupiah untuk sebuah arloji saja. Apakah orang yang memiliki arloji senilai milyaran rupiah pasti lebih menghargai waktu daripada mereka yang melihat waktu hanya dari jam di ponsel? Belum tentu. Orang bisa menghargai waktu ketika ia bisa melihat waktu dengan cara yang benar. Sayang, masih banyak yang melihat waktu dengan cara salah. Ada yang memakai seluruh waktunya hanya untuk melakukan satu hal (misal: bekerja terus menerus, atau berhura-hura tak ada habisnya). Ada juga yang terpaku pada masa lalu. Ada yang hanya fokus pada hal-hal jangka pendek sehingga tidak siap menghadapi masa depan. Ada yang menilai seluruh waktunya dengan apa yang terjadi di satu waktu saja. Jika gagal, ia merasa hidupnya akan selalu gagal. Jika berhasil, ia sombong karena merasa tak akan bisa gagal. Tidak sedikit juga yang gagal menikmati masa sekarang. Daripada menikmati hal-hal yang ada di hadapan mereka, mereka lebih terpaku pada masa lalu ataupun terus mengejar ini itu dengan beralasan semuanya demi masa depan. Satu yang harus kita pahami adalah bahwa setiap waktu adalah berharga. Itu sebabnya kita harus belajar menghitung hari (Mzm. 90:12). Ya, hari, bukan bulan atau tahun. Artinya, hargai setiap waktu, dari waktu terkecil. Setiap waktu adalah berharga, bukan karena waktu adalah uang seperti pepatah dunia. Waktu berharga karena apa yang kita lakukan di setiap waktu kita di dunia ini akan berdampak pada waktu kita di kekekalan nanti. Karena itu, hanya memakai waktu untuk urusan dunia, mengejar kesuksesan jasmani atau ambisi pribadi, tentu tidak bijak. Memakai waktu untuk bersekutu dengan Allah, mengasihi keluarga, melayani sesama, serta juga beristirahat dan menjaga kesehatan, itu yang juga harus dilakukan. Hiduplah dengan fokus untuk melakukan kehendak Allah dalam segala hal, baik itu di pekerjaan, pergaulan, hingga waktu pribadi. Itulah cara bijak menghargai waktu. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku hikmat-Mu agar aku dapat menghargai waktuku. Sehingga apapun yang aku lakukan semua dapat bermanfaat bagi hidupku saat ini maupun untuk persiapan masa depanku. Amin. (Dod).

21 de jun de 20265 min
Portada del episodio Edisi Hari Minggu, 21 Juni 2026 - Lakukan kebaikan dengan Tulus

Edisi Hari Minggu, 21 Juni 2026 - Lakukan kebaikan dengan Tulus

Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 21 Juni 2026 Bacaan: "Cara yang demikianlah diperbuat Absalom kepada semua orang Israel yang mau masuk menghadap untuk diadili perkaranya oleh raja, dan demikianlah Absalom mencuri hati orang-orang Israel." (2 Samuel 15:6) Renungan: Kita sering mendengar peribahasa ada udang di balik baru. Jika seseorang terlihat baik, belum tentu ia benar-benar baik. Kita tidak pernah tahu kalau saja ia punya maksud tersembunyi. Berbuat baik, tapi tidak tulus. Berbuat baik tapi ada maunya. Bukan berarti kita harus curiga kalau melihat seseorang melakukan perbuatan baik. Daripada sibuk menilai dan mencari tahu motivasi orang dalam melakukan kebaikan, lebih baik kita menjaga hati kita supaya tidak melakukan hal seperti ini. Setiap kali kita akan melakukan perbuatan baik, cobalah kita jujur kepada diri kita sendiri, "Apakah kita melakukan kebaikan karena didasari kasih yang tulus, ataukah sebenarnya kita punya agenda tersembunyi?" Absalom itu punya modal yang komplit untuk menjadi pemimpin besar Israel. Punya perawakan yang gagah, elok rupanya, cakap, dan terutama: pintar mengambil hati rakyat! Maka rakyat pun tertarik dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh Absalom. Betapa tidak? Dengan telaten Absalom mengambil hati rakyat Israel dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Tidak main-main, "udang itu bersembunyi di balik batu" hingga empat tahun! Betapa telatennya Absalom membangun citranya demi mengumpulkan massa. Begitu mayoritas orang Israel berpihak kepadanya, barulah ketahuan sifat asli Absalom, yaitu ia ingin memberontak dan mengkudeta ayahnya sendiri! Baik tanpa disertai dengan ketulusan itu berbahaya. Cobalah jujur kepada diri kita sendiri, apakah kita tulus dalam melakukan kebaikan, ataukah sebenarnya kita punya maksud tersembunyi? Sebagai anak-anak Tuhan, sungguh tidak pantas kalau kebaikan kita sebenarnya memiliki agenda terselubung. Bagaimana mungkin kita berharap Tuhan memberkati kebaikan yang kita lakukan, jika sebenarnya kita punya maksud yang tersembunyi, terlebih lagi jika kita punya maksud yang jahat seperti halnya yang dilakukan oleh Absalom! Jadilah orang yang baik tapi tulus. Menolong tanpa pamrih. Memberi tanpa berharap imbalan. Murah hati tanpa berharap kembali. Ketika kita tulus dalam berbuat baik, maka Tuhan sendiri yang akan membalas setiap kebaikan kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, murnikanlah setiap kebaikan yang sedang aku rencanakan maupun yang akan aku lakukan, sehingga semua nya itu aku lakukan dengan tulus hati tanpa ada rencana yang tidak baik di baliknya. Amin. (Dod).

20 de jun de 20265 min
Portada del episodio Edisi Hari Sabtu, 20 Juni 2026 - Menjadi saksi kehadiran Tuhan

Edisi Hari Sabtu, 20 Juni 2026 - Menjadi saksi kehadiran Tuhan

Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 20 Juni 2026 Bacaan: "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?" (Roma 10:14) Renungan: Shoichi Yokoi adalah salah satu serdadu Jepang yang bertempur di Perang Dunia II. Pada tahun 1944, Yokoi berada di Guam saat pasukan Amerika menyerang dan merebut pulau itu. Yokoi enggan menyerah dan memilih bersembunyi di hutan dengan beberapa temannya. Meski satu persatu temannya pergi atau wafat, Yokoi terus bertahan di hutan itu hingga 27 tahun, tanpa tahu Jepang telah menyerah pada 1945. Ketika ditemukan oleh beberapa nelayan, Yokoi sempat memberontak karena mengira ia akan ditawan musuh (sesuatu yang dianggap memalukan bagi prajurit Jepang). Sampai akhimya ia diberi tahu bahwa perang sudah berakhir beberapa dekade lalu. Saat Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945, mereka yang tinggal di pedesaan apalagi yang berada di pulau-pulau paling ujung Indonesia jelas belum tahu bahwa mereka telah menjadi bangsa merdeka. Teknologi dan komunikasi masih jauh dari saat ini. Harus ada orang yang memberi tahu mereka. Hingga akhirnya, cepat atau lambat berita tentang kemerdekaan Indonesia sampai ke telinga rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kini semua rakyat Indonesia telah mengetahui bahwa mereka adalah bagian dari sebuah bangsa yang berdaulat. Demikian pula dengan berita tentang kemerdekaan yang lebih penting, yakni kemerdekaan manusia dari kutuk dosa. Dua ribu tahun lalu, di atas kayu salib, Yesus telah memerdekakan kita dari belenggu dosa. Namun hingga kini, masih banyak orang yang belum pernah mendengar kabar tentang hal itu. Seperti prajurit Yokoi tadi, mereka masih hidup dalam ketakutan, ketidakpastian, dan penderitaan. Ya, inilah tugas kita! Kita harus menyebarkan kabar tentang keselamatan itu kepada mereka yang belum juga mendengarnya. Cukup beritahukan kabar gembira ini kepada mereka. Jelaskan ketika mereka ingin lebih tahu tentang siapa Yesus. Tunjukkan kasih-Nya melalui sikap hidup kita. Mengenai respons mereka, itu urusan mereka dengan Tuhan. Inilah yang Tuhan mau untuk kita lakukan? Tuhan pun berjanji bahwa la akan menyertai kita, yang artinya la akan memampukan kita. Jadi, tunggu apa lagi? Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, berilah aku kemauan untuk memberitakan tentang kasih-Mu kepada orang lain melalui perkataan dan perbuatanku, sehingga semakin banyak orang mengenal Engkau melalui kehadiranku. Amin. (Dod).

19 de jun de 20265 min