Edisi Hari Senin, 13 Juli 2026 - Merangkul dan menyambut sesama yang terabaikan
Kencan Dengan Tuhan - Senin, 13 Juli 2026
Bacaan:
"Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku." (Mazmur 27:10)
Renungan:
Pada tahun 1967, seorang laki-laki bernama Joni Eareckson umur 17 tahun meloncat ke danau untuk menyelam. Namun karena salah perhitungan, dia cedera tulang belakang. Sejak hari itu dia lumpuh dari leher ke bawah. Dunia Joni runtuh. Orang tuanya sedih, teman-temannya menjauh. Dia marah sama Tuhan. "Kenapa aku? Kenapa Tuhan izinkan ini?" Di tempat tidur rumah sakit, dia merasa benar-benar ditinggalkan. Fisiknya lemah, masa depannya gelap, dan dia merasa tidak ada yang mengerti. Tapi di titik paling hancur itu, Joni mulai membuka Alkitab. Mazmur 27:10 jadi pegangannya: "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku." Tuhan tidak menyembuhkan tubuhnya. Tapi Tuhan menyambut dia. Dari kursi roda, Joni menjadi pelukis dengan kuas di mulut, penulis 40 buku, dan pendiri yayasan yang menolong ribuan penyandang disabilitas di seluruh dunia. Dia berkata, "Tuhan tidak selalu mengeluarkan kita dari air, tapi Dia selalu masuk ke dalam air bersama kita."
Daud menulis mazmur di atas ini saat dia dikejar-kejar, difitnah, bahkan mungkin ditinggal orang terdekatnya. "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku", ini merupakan kalimat yang paling menyakitkan. Keluarga seharusnya jadi tempat paling aman. Tapi Daud berkata, bahkan tempat paling aman itu mengecewakan. Kalimat selanjutnya, "...namun TUHAN menyambut aku", itu merupakan kalimat yang meneguhkan dan menguatkan karena itu berarti Tuhan mengumpulkan, merangkul dan membawanya pulang. Mazmur ini mengajarkan kita bahwa pengharapan tidak boleh hanya ditaruh di tangan manusia tetapi di tangan Tuhan. Manusia bisa gagal, bisa pergi, bisa melukai. Tapi Tuhan tidak pernah. Dia selalu jadi rumah yang tidak pernah menolak kita pulang.
Sebagai pengikut Yesus kita pasti pernah merasa "ditinggalkan", antara lain ditinggalkan orang. Teman yang unfollow karena kita beda pilihan. Keluarga yang tidak mendukung panggilan kita. Rekan kerja yang menikam dari belakang. Rasanya sakit. Tapi ingat, Tuhan menyambut kita. Dia tidak pernah meng-unfollow kita. Kita juga mungkin pernah ditinggalkan harapan. Doa belum dijawab, pintu kerja tertutup dan rencana gagal. Rasanya Tuhan diam, tetapi ternyata dia tetap "menyambut" artinya Dia tetap dekat. Dia peluk kita di tengah penantian kita. Kita juga mungkin pernah ditinggalkan diri sendiri. Kita kecewa pada diri sendiri sehingga kita berkata, "Aku gagal lagi". Tapi Tuhan berkata, "Aku tidak meninggalkan kamu. Aku mengumpulkan kepingan harapanmu satu persatu."
Sebagai pengikut Yesus, kita dipanggil juga untuk menjadi "tangan Tuhan yang menyambut". Ketika melihat rekan kerja yang dikucilkan, murid yang diabaikan, keluarga yang kesepian, jadilah rumah bagi mereka, karena kita sudah lebih dahulu disambut Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.
Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkan aku. Ampunilah aku kalau aku sering mencari penerimaan di tempat yang salah. Hari ini aku mau pulang dan berlindung dalam pelukan-Mu. Pakailah aku juga untuk menyambut orang-orang di sekitarku yang merasa ditinggalkan. Amin. (Dod).